BANDA ACEH — Ribuan warga dari berbagai kabupaten/kota di Aceh memadati halaman Masjid Raya Baiturrahman sejak pagi untuk mengikuti doa bersama memperingati 21 tahun perdamaian antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, suasana khidmat berubah menjadi tegang ketika sejumlah massa mulai mengibarkan bendera bulan bintang, bendera putih, dan bendera PBB di kawasan masjid.
Pengibaran bendera bulan bintang disebut sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dinilai gagal dalam pemulihan bencana hidrometalurgi yang terjadi pada 2025 lalu. Aksi ini berlangsung di tengah peringatan Hari Damai Aceh yang semestinya menjadi momen refleksi dua dekade lebih perdamaian.
Pantauan di lokasi menunjukkan bendera bulan bintang mulai dikibarkan sejak massa tiba di kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Beberapa pihak sempat meminta massa menurunkan bendera tersebut untuk sementara waktu ketika penyampaian orasi berlangsung, namun permintaan itu tidak diindahkan.
Ketegangan kian memanas setelah personel TNI dan polisi yang berjaga di dalam kawasan masjid ikut meminta massa menurunkan bendera. Massa bukannya patuh, mereka justru meminta seluruh personel keamanan meninggalkan area dalam Masjid Raya Baiturrahman.
Personel keamanan akhirnya keluar dari kawasan tersebut. Situasi sempat kacau ketika sejumlah massa mengejar dan melempari aparat dengan botol air mineral. Seorang personel TNI bahkan dilaporkan sempat tersangkut di pagar masjid saat berupaya meninggalkan lokasi.
Peristiwa ini berlangsung persis saat kegiatan seremonial peringatan Hari Damai Aceh ke-21 digelar di Bale Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh. Dua lokasi berbeda, dua suasana yang kontras: satu diisi doa dan seremoni, satu lagi diwarnai ketegangan antara warga dan aparat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun TNI terkait insiden di Masjid Raya Baiturrahman. Belum jelas pula apakah aksi protes ini akan berlanjut atau mereda setelah aparat ditarik dari kawasan masjid.