BANDA ACEH — Pemerintah Aceh mematangkan persiapan akhir jelang keberangkatan kafilah ke ajang MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Sebanyak 56 peserta yang akan dikirim bukan sekadar juara daerah, melainkan telah melewati penyaringan ulang untuk memastikan kualitas dan daya saingnya di tingkat nasional.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., mengungkapkan bahwa para peserta merupakan hasil seleksi lanjutan dari para juara MTQ Aceh di Kabupaten Pidie Jaya. Para peraih juara pertama, kedua, dan ketiga dipanggil kembali untuk mengikuti seleksi sebelum ditetapkan sebagai anggota kafilah.
“Peserta yang mendapat juara 1, 2, 3 dipanggil kembali hasil MTQ di Pidie Jaya yang diseleksi balik, jadilah yang terpilih,” kata Misran.
TC Tahap Ketiga Digelar, Fokus pada Mental dan Teknik
Menjelang keberangkatan ke Semarang, DSI Aceh menggelar Training Center (TC) tahap ketiga pada 6–13 Agustus 2026. Pembinaan ini menjadi salah satu tahapan penting untuk mengukur kesiapan peserta sebelum memasuki arena kompetisi nasional.
Pembukaan TC tahap III dilakukan oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Aceh, Drs. Syakir, M.Si., mewakili Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir, S.IP., MPA. Dalam arahannya, Syakir menekankan bahwa pembinaan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun mental bertanding dan kedisiplinan.
“Saudara-saudara adalah duta Aceh yang membawa nama baik daerah di panggung nasional. Karena itu, manfaatkan setiap proses pembinaan ini untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, memperkuat mental, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujar Syakir.
Empat Tahap Pembinaan, Pelatih Nasional Dilibatkan
Pemerintah Aceh melalui DSI bersama Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Aceh menyusun pola pembinaan secara bertahap. Sebanyak 56 peserta menjalani program dalam empat tahap, yakni pada 5–13 Mei, 8–15 Juni, 6–13 Agustus, serta 6–10 September 2026 sebelum keberangkatan ke Semarang.
Pembinaan mencakup berbagai cabang lomba, mulai dari Tilawah Al-Qur'an, Tartil, Qira'at, Tahfizh, Tafsir Al-Qur'an, Fahmil Qur'an, Syarhil Qur'an, Khattil Qur'an, hingga Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIQ). DSI Aceh juga menghadirkan pelatih daerah dan pelatih nasional untuk memperkuat kualitas pembinaan.
Beberapa pelatih yang terlibat di antaranya Ustaz Syahril untuk cabang Tahfizh, Ustaz Isep Misbah pada cabang Khattil Qur'an, Ustazah Mawaddah untuk Tilawah, serta Ustazah Maria Kiftiah pada cabang Syarhil Qur'an.
Cabang Tertentu Dapat Pembinaan Tambahan di Jakarta
DSI Aceh menyiapkan strategi khusus bagi sejumlah cabang lomba yang memiliki tingkat persaingan tinggi. Peserta dari cabang tertentu akan mendapatkan pembinaan tambahan di Jakarta sebelum menuju lokasi MTQ Nasional di Semarang.
“Tujuannya adalah agar ada pelatihan yang supaya tersentuh dengan pelatih-pelatih nasional. Karena namanya juga MTQ Nasional, kalau yang latih dari pelatih daerah, nanti kan jauh kualitasnya dengan yang dilatih oleh tim nasional,” jelas Misran.
Skema pelatihan tambahan di Jakarta tidak diberlakukan untuk seluruh peserta. Program tersebut hanya diberikan kepada cabang-cabang tertentu yang membutuhkan penguatan teknik dan strategi secara lebih mendalam.
Misran menambahkan, pembinaan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengasah kemampuan di setiap cabang musabaqah, tetapi juga membangun kesiapan mental, spiritual, serta daya saing peserta. Proses ini disebutnya sebagai investasi jangka panjang dalam melahirkan generasi Qurani yang mampu menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an.