BBPOM Aceh Bekali 35 Tenaga Kefarmasian di Pidie Jaya Soal Pengelolaan Obat dan Bahaya Resistansi Antimikroba

Penulis: Yasir  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:34:46 WIB
BBPOM Aceh memberikan bimbingan teknis pengelolaan obat kepada 35 tenaga kefarmasian di Pidie Jaya, Senin (10/2/2025).

Resistansi antimikroba (AMR) menjadi ancaman serius bagi efektivitas pengobatan di Indonesia. Untuk mencegahnya, BBPOM Aceh membekali 35 tenaga kefarmasian di Kabupaten Pidie Jaya melalui bimbingan teknis pengelolaan obat sekaligus sosialisasi bahaya AMR. Kegiatan ini ditekankan pada pentingnya kepatuhan penyerahan antibiotika agar tidak terjadi penyalahgunaan obat.

PIDIE JAYA — Resistansi antimikroba, atau kondisi ketika mikroorganisme kebal terhadap obat, kini jadi perhatian serius di sektor kesehatan. BBPOM Aceh tak tinggal diam. Lewat Bimbingan Teknis Perizinan dan Pengelolaan Obat di Apotek dan Toko Obat serta Sosialisasi Bahaya AMR yang digelar Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana setempat, puluhan tenaga kefarmasian di Pidie Jaya diingatkan soal bahaya penggunaan antibiotika yang tidak tepat.

Mengapa AMR Perlu Diwaspadai

Ketika bakteri kebal terhadap obat, pengobatan menjadi gagal dan pasien bisa jatuh lebih parah. Infeksi yang semula mudah diatasi bisa berubah menjadi kondisi yang membahayakan nyawa. Karena itu, pengendalian AMR membutuhkan keterlibatan semua pihak, tak terkecuali tenaga kefarmasian.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BBPOM Aceh, Bustami, menegaskan posisi strategis tenaga kefarmasian dalam pengendalian resistansi antimikroba. “Tenaga kefarmasian memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengendalian resistansi antimikroba dan mengedukasi pasien mengenai penggunaan antibiotika secara tepat dan sesuai petunjuk tenaga kesehatan,” katanya di Pidie Jaya, Senin.

Menurut Bustami, pengelolaan obat tidak berhenti pada ketersediaan produk di sarana pelayanan kefarmasian. Cara obat diserahkan dan digunakan juga menentukan efektivitas pengobatan sekaligus mencegah munculnya resistansi.

35 Tenaga Kefarmasian Ikut Bimbingan Teknis

Kegiatan ini diikuti 35 peserta. Mereka adalah apoteker penanggung jawab apotek serta tenaga teknis kefarmasian penanggung jawab toko obat di wilayah Kabupaten Pidie Jaya.

Materi yang disampaikan mencakup perizinan sarana kefarmasian, tata cara penyimpanan, hingga ketentuan penyerahan obat. Melalui peningkatan literasi dan kepatuhan, tenaga kefarmasian diharapkan mampu mendorong penggunaan antimikroba yang lebih bijak.

Obat di Tangan Masyarakat Harus Tetap Terjaga Mutunya

Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya, Eddy Azwar, mengingatkan pentingnya pengelolaan obat sesuai standar pada setiap tahapan. “Kita harus memastikan obat yang sampai kepada masyarakat tetap terjamin mutu, khasiat, dan keamanannya. Karena itu, tenaga kefarmasian memiliki peran penting dalam memastikan seluruh proses pengelolaan obat berjalan dengan baik,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Eddy menekankan bahwa proses pengelolaan obat harus berjalan benar sejak penyimpanan, penyaluran, hingga penyerahan kepada pasien. Hal ini demi menjaga efektivitas pengobatan dan memberikan perlindungan kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

Sinergi BBPOM Aceh dan Pemkab Pidie Jaya

BBPOM Aceh berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kompetensi tenaga kefarmasian. Kolaborasi ini juga bertujuan membangun kesadaran bersama akan pentingnya penggunaan obat secara tepat.

Pengetahuan yang diperoleh dalam bimbingan teknis ini diharapkan diterapkan konsisten di apotek dan toko obat. Pelayanan obat kepada masyarakat pun berlangsung sesuai ketentuan, sehingga risiko resistansi antimikroba bisa ditekan sejak dini.

Reporter: Yasir
Sumber: aceh.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top