Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh naik 0,59 persen menjadi 128,06 pada Agustus 2026. Kenaikan ini terjadi hampir di seluruh subsektor pertanian, dengan harga cabai rawit, kopi, dan kakao menjadi penopang utama. Indeks harga yang diterima petani naik lebih tinggi dibanding indeks yang dibayar, menandakan daya beli petani membaik.
BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh naik 0,59 persen menjadi 128,06 pada Agustus 2026. Kenaikan ini terjadi hampir di seluruh subsektor pertanian, dengan harga cabai rawit, kopi, dan kakao menjadi penopang utama. Indeks harga yang diterima petani naik lebih tinggi dibanding indeks yang dibayar, menandakan daya beli petani membaik.
Berdasarkan pemantauan harga di perdesaan, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) tercatat naik 0,99 persen menjadi 161,38. Sebaliknya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,40 persen ke posisi 126,02.
"Komoditas yang paling besar memberi andil bagian terhadap NTP Aceh pada Agustus adalah kopi, cabai rawit, dan kakao/coklat biji," kata Kepala BPS Aceh Agus Andria di Banda Aceh, Selasa.
Kenaikan harga komoditas pertanian ini mendorong peningkatan indeks yang diterima petani di hampir semua subsektor, kecuali subsektor tanaman pangan.
Indeks harga yang dibayar petani naik setelah harga cabai rawit, beras, dan ikan tongkol di pasar perdesaan mengalami kenaikan. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (KRT) tumbuh 0,46 persen, sementara Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,16 persen.
Artinya, kenaikan pendapatan petani masih lebih cepat dibanding kenaikan pengeluarannya.
NTP adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Indikator ini menggambarkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, semakin kuat daya beli petani.
BPS Aceh meyakini kenaikan nilai yang diterima petani akan turut meningkatkan kesejahteraan petani di provinsi berpenduduk sekitar lima juta jiwa itu.