BANDA ACEH — Cita-cita menjadikan Banda Aceh sebagai kota parfum mulai menemukan bentuknya. Gagasan itu mengemuka dalam forum koordinasi penguatan ekosistem nilam berkelanjutan yang dihadiri USK, pemerintah pusat, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya di BSI Landmark Aceh. Forum ini mencoba merangkai ulang nilam dari sekadar komoditas atsiri menjadi bagian dari rantai industri yang mencakup riset, pengolahan, hingga pemasaran.
Kunci dari gagasan ini adalah integrasi. Petani di hulu tidak lagi dilepas sendirian, sementara pengolahan dan produksi di hilir berjalan terpisah. Pembiayaan juga menjadi perhatian serius dalam forum tersebut.
Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Erdiriyo Erdi, menegaskan keterhubungan antarsektor menjadi prasyarat utama. Menurutnya, dukungan semua pihak diperlukan agar pembiayaan dapat menopang usaha secara berkelanjutan.
"Kita ingin memperkuat nilam dari hulu sampai hilir dalam satu ekosistem. Banda Aceh dengan cita-cita menjadi kota parfum tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak," ujarnya.
USK Bawa Modal 15 Tahun Riset dan Jejaring ke Paris
Posisi USK dalam ekosistem ini dinilai strategis, terutama melalui Atsiri Research Center (ARC). Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, menyebut kampusnya telah menggeluti riset nilam sekitar 15 tahun. Orientasi penelitian kini tidak lagi berhenti pada publikasi ilmiah.
Setelah berstatus PTN-BH, arah pengembangan riset di USK semakin ditekankan pada hilirisasi. Hasil penelitian diharapkan melahirkan produk bernilai tambah dan manfaat ekonomi yang terasa langsung oleh masyarakat.
"Orientasinya bukan hanya menghasilkan publikasi atau inovasi, tetapi bagaimana hasil riset dapat di hilirkan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat industri, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," kata Prof. Mirza.
Kompetensi Meracik Wangi Tak Bisa Instan
Untuk menghasilkan produk seperti fine fragrance dan kosmetik, dibutuhkan keahlian yang tidak sederhana. USK menyadari keterbatasan ini dan membuka ruang kolaborasi internasional. Dukungan International Labour Organization (ILO) disebut menjadi salah satu pintu masuk pembelajaran tersebut.
Bahkan, dua orang utusan USK telah mendapat kesempatan mempelajari pengembangan parfum langsung di Paris. Rektor USK menyebut kemampuan formulasi dan olfactory science sebagai kompetensi yang wajib dibangun di Aceh.
"Merangkai berbagai notes menjadi sebuah komposisi parfum membutuhkan keahlian, pengalaman, kreativitas, dan pemahaman terhadap karakter bahan. Karena itu, kami membuka akses pembelajaran dan kolaborasi internasional agar kompetensi tersebut dapat dikembangkan di Aceh," ungkap Prof. Mirza.
Syarat Agar Petani Tidak Jadi Penonton
Ambisi membangun industri hilir tidak boleh menenggelamkan nasib petani di hulu. Prof. Mirza menegaskan penguatan kapasitas produksi petani serta kepastian pasar merupakan harga mati. Tujuannya, ketimpangan antara sektor hulu dan hilir tidak terjadi.
"Jika kita ingin membangun industri nilam yang berkelanjutan, petani harus memperoleh manfaat yang layak dan memiliki kepastian pasar," tegasnya.
Dengan pasar yang lebih pasti, produksi nilam di tingkat petani diharapkan ikut terdorong. Kondisi ini dinilai mampu memancing masyarakat untuk kembali membudidayakan nilam secara lebih serius.