BANDA ACEH — SMKN 5 Telkom Banda Aceh resmi menggandeng PT iCON+, anak usaha PT Telkom Indonesia, untuk membangun kelas industri berbasis teknologi digital. Program ini dirancang agar kurikulum sekolah selaras dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya di sektor telekomunikasi dan teknologi informasi.
Kelas industri tersebut tidak hanya menghadirkan perangkat keras terkini, tetapi juga modul pembelajaran yang disusun langsung oleh praktisi dari iCON+. Dengan begitu, siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga simulasi dan praktik yang relevan dengan kondisi lapangan.
Modul dan Perangkat dari Praktisi Langsung
Kepala SMKN 5 Telkom Banda Aceh menyebutkan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. "Kami ingin lulusan SMK tidak hanya punya ijazah, tapi juga sertifikasi dan pengalaman yang diakui dunia kerja," ujarnya.
iCON+ menyediakan perangkat jaringan, sistem manajemen, serta tenaga pengajar tamu yang merupakan teknisi dan engineer aktif. Materi yang diajarkan mencakup fiber optik, jaringan akses, hingga manajemen proyek telekomunikasi.
Target: Lulusan Langsung Terserap Industri
Program ini menyasar siswa jurusan Teknik Jaringan Akses Telekomunikasi (TJAT) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Setelah menyelesaikan kelas industri, siswa berkesempatan mengikuti uji sertifikasi yang diakui oleh asosiasi telekomunikasi nasional.
Pihak iCON+ menambahkan bahwa inisiatif ini bagian dari program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSL) di bidang pendidikan. "Kami butuh tenaga teknis yang siap pakai. Daripada melatih dari nol, lebih baik kami mulai dari bangku sekolah," kata perwakilan iCON+.
Gelombang Pertama Dimulai Tahun Ajaran Ini
Kelas perdana sudah mulai berjalan pada tahun ajaran 2024/2025 dengan melibatkan 30 siswa sebagai peserta tahap awal. Sekolah menargetkan perluasan peserta di tahun berikutnya jika hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kompetensi signifikan.
Selain modul teknis, siswa juga mendapatkan pembekalan soft skill seperti komunikasi tim dan keselamatan kerja di lapangan. Hal ini dinilai penting karena teknisi telekomunikasi sering bekerja di lingkungan yang menuntut ketelitian dan koordinasi.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model bagi SMK lain di Aceh untuk menjalin kemitraan serupa dengan perusahaan telekomunikasi maupun industri digital lainnya.