ACEH — Aceh tidak pernah kekurangan peluang, sumber daya, status istimewa, hingga posisi strategis untuk melompat maju. Semua faktor pemungkin dan pemudah itu sudah tersedia. Namun, dalam praktiknya, kondisi daerah belum mencerminkan modal strategis yang dimiliki.
Dalam banyak indikator pembangunan, capaian Aceh masih negatif. Salah satu yang paling sensitif dan kerap menjadi gugatan publik adalah tingkat kemiskinan yang terus bertahan di posisi terburuk, baik di tingkat Sumatera maupun nasional Indonesia.
Mengapa Aceh Stagnan Meski Sumber Daya Melimpah?
Pertanyaan mendasar pun muncul: apa yang salah dan di mana letak anomalinya? Jika semua syarat untuk bertumbuh sudah dimiliki, faktor apa yang paling mungkin menyebabkan Aceh terus bergerak di tempat dan mengalami kebuntuan atau deadlock?
Jawaban generik yang kerap ditunjuk banyak orang adalah faktor mentalitas. Dalam perspektif antropologi, hal ini disebut sebagai mentalitas pembangunan—seperangkat nilai, sikap, orientasi berpikir, dan pola perilaku yang mendorong individu maupun masyarakat untuk menerima perubahan, bekerja produktif, dan berorientasi masa depan.
Mindset Belum Sebesar Potensi dan Peluang
Dalam penjelasan yang lebih operasional, seorang pengamat dalam sebuah opini di media lokal menekankan satu frase kunci: the way of thinking, atau orientasi cara berpikir yang menjadi awal dari segalanya. Menurutnya,