Mawardi Nur menjelaskan, peningkatan dividen merupakan hasil transformasi perusahaan melalui penguatan tata kelola yang baik (good corporate governance), pembenahan manajemen, dan pengembangan lini usaha secara profesional. Laba tahun buku 2025 berasal dari sejumlah unit strategis, antara lain pengelolaan Wilayah Kerja Blok B melalui anak perusahaan PT Pema Global Energi (PGE), pengelolaan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, perdagangan sulfur, ekspor kopi arabika Gayo, serta perdagangan hasil perikanan.
“Penyerahan dividen ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus memberikan kontribusi bagi Aceh sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui peningkatan kinerja, perluasan usaha, dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Mawardi dalam sambutannya.
Gubernur: Bukti BUMD Bisa Mandiri Tanpa Anggaran Pemda
Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengapresiasi pencapaian PT PEMA yang dinilainya berhasil berkembang sebagai Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) dengan mengandalkan kekuatan bisnis tanpa bergantung pada dukungan anggaran pemerintah. “Ini menjadi bukti bahwa BUMA dapat dikelola secara profesional dengan tata kelola yang semakin baik,” kata Muzakir. Ia yakin kontribusi PT PEMA terhadap Pendapatan Asli Daerah akan terus meningkat dan memberikan manfaat lebih besar bagi pembangunan Aceh.
Target 2026: Ekspansi Telekomunikasi dan Cold Storage
Ke depan, PT PEMA menargetkan peningkatan pendapatan pada 2026 melalui optimalisasi usaha yang telah berjalan. Beberapa langkah yang direncanakan antara lain meningkatkan harga jual gas melalui PT Pema Global Energi, mengoptimalkan nilai jual sulfur, serta memperluas ekspor komoditas unggulan Aceh ke pasar internasional.
Selain itu, perusahaan mulai mengembangkan sektor strategis baru, di antaranya bisnis telekomunikasi, pembangunan fasilitas cold storage, pengembangan kawasan industri, serta berbagai peluang investasi lain yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Aceh.