BANDA ACEH — Areal persawahan seluas ratusan hektare di Kemasjidan Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, merupakan lahan tadah hujan. Ketika curah hujan rendah seperti saat ini, para petani tidak punya pilihan selain memompa air dari Waduk Keuliling untuk mengairi sawah mereka.
Pompa 24 Jam, Bensin Habis 400 Liter Sebulan
Bukari (60), seorang petani di Kemasjidan Lampanah, mengaku telah menghabiskan dua drum atau sekitar 400 liter bahan bakar minyak dalam sebulan terakhir. Mesin pompa miliknya harus menyala non-stop selama 24 jam agar air bisa mencapai sawah seluas lebih dari satu hektare.
"Jarak dari pompa ke sawah mencapai satu kilometer. Kalau tidak menyala terus, air tidak mencukupi," kata Bukari kepada ANTARA, Rabu.
Ia menjelaskan, letak areal persawahan lebih tinggi dari saluran irigasi. Akibatnya, air dari Waduk Keuliling tidak bisa mengalir secara gravitasi ke lahan petani. "Airnya harus disedot pakai pompa dari waduk yang tidak jauh dari sini," ujarnya.
Ratusan Hektare Sawah Terdampak, Sebagian Berat
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, Imam Munandar, menyebutkan total lahan sawah yang terdampak kekeringan mencapai 1.206 hektare. Dari jumlah tersebut, 80 hektare masuk kategori berat, 774,89 hektare kategori sedang, dan 352 hektare kategori ringan.
"Informasi yang kami himpun dari seluruh petugas di kecamatan, ada seribuan hektare sawah terdampak kekeringan," kata Imam Munandar.
Berdasarkan data Dinas Pertanian setempat, luas lahan sawah irigasi di Aceh Besar mencapai 14.138 hektare, sementara lahan tadah hujan seluas 8.053 hektare. Lahan tadah hujan inilah yang paling rentan saat kemarau tiba.
Petani Lain: Praktik Ini Sudah Bertahun-tahun
Faisal, petani lainnya di lokasi yang sama, mengatakan penggunaan mesin pompa untuk mengairi sawah saat curah hujan rendah sudah berlangsung bertahun-tahun. "Kalau tidak menggunakan mesin pompa, maka sawah tidak ada air. Mesin pompa ini untuk memastikan ketersediaan air di sawah masing-masing petani," jelasnya.
Setiap pemilik lahan di kawasan itu mengoperasikan pompa dan pipa distribusi sendiri-sendiri. Saat curah hujan tinggi, mereka tidak perlu menyalakan mesin karena air hujan sudah cukup untuk mengairi sawah.
Pemkab Bergerak, Antisipasi Gagal Panen
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bergerak cepat mengantisipasi dampak kekeringan. Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menyatakan pihaknya siap hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi.
"Kami bekerja ekstra untuk melakukan langkah-langkah cepat dalam penanggulangan bencana kekeringan, termasuk upaya penyediaan air bersih untuk masyarakat dan mencegah gagal panen," kata Muharram Idris.
Pemkab menyebut langkah-langkah strategis tengah disusun untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang bagi petani di wilayah tadah hujan yang setiap tahun menghadapi ancaman serupa.