ACEH — Rupiah dibuka menguat pada level 17.515 per dolar AS, namun segera melemah 0,08% hingga mencapai 17.543 per dolar AS pada pukul 09.52 WIB. Hal ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia lainnya yang juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, yang berdampak pada harga minyak dan menciptakan ketidakpastian global. Di sisi domestik, terdapat peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman, seperti untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan kebutuhan ibadah haji.
Destry menegaskan bahwa BI berkomitmen untuk melakukan intervensi cerdas di pasar, baik di pasar spot maupun dalam instrumen DNDF dan NDF, guna meredakan tekanan terhadap rupiah. "BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention," ujarnya dalam keterangan resmi.
Pelemahan rupiah ini dapat berdampak langsung pada masyarakat, terutama yang memiliki utang dalam dolar AS. Kenaikan nilai dolar dapat membuat pembayaran utang menjadi lebih mahal. Selain itu, biaya perjalanan haji juga berpotensi meningkat, mengingat kebutuhan dolar untuk keperluan tersebut.
Destry mencatat bahwa meskipun ada tekanan, kepercayaan terhadap aset portofolio Indonesia mulai membaik, yang tercermin dari aliran modal asing masuk sebesar Rp 61,6 triliun ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SRBI) pada bulan April. "Kami memperkirakan tekanan musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," tambahnya.
Masyarakat perlu memahami bahwa fluktuasi nilai tukar dapat mempengaruhi berbagai aspek ekonomi, termasuk harga barang impor dan biaya hidup. Dengan meningkatnya permintaan dolar AS, penting bagi warga untuk memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan dari BI.
Pelemahan rupiah disebabkan oleh ketidakpastian global akibat situasi di Timur Tengah dan peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang dan ibadah haji.
Dampak langsungnya adalah meningkatnya biaya utang dalam dolar AS dan potensi kenaikan biaya perjalanan haji.
Bank Indonesia berkomitmen melakukan intervensi cerdas di pasar untuk meredakan tekanan pada nilai tukar rupiah.