Pencarian

Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.487 per Dolar AS, Biaya Impor dan Liburan ke Luar Negeri Makin Mahal

Selasa, 12 Mei 2026 • 10:00:02 WIB
Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.487 per Dolar AS, Biaya Impor dan Liburan ke Luar Negeri Makin Mahal
Rupiah melemah ke Rp 17.487 per dolar AS akibat penguatan mata uang AS di pasar Asia.

ACEH — Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.06 WIB, dolar AS kini berada di posisi Rp 17.487. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan dolar secara luas di pasar Asia. Mata uang Paman Sam tercatat naik 0,24% terhadap yen Jepang, 0,29% terhadap baht Thailand, dan 0,21% terhadap ringgit Malaysia.

Hanya terhadap yuan China dolar AS melemah tipis 0,02%. Sementara terhadap euro dan dolar Australia, greenback juga menguat masing-masing 0,07% dan 0,22%.

Dampak ke Kantong Masyarakat: Ongkos Impor dan Liburan Naik

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp 17.500 per dolar AS bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Bagi masyarakat, dampaknya langsung terasa di dompet. Harga barang impor seperti elektronik, suku cadang kendaraan, hingga bahan baku industri otomotif dan makanan-minuman berpotensi naik dalam beberapa pekan ke depan.

Pelaku bisnis yang menggantungkan pasokan dari luar negeri akan menghadapi tekanan biaya produksi. Jika tidak bisa menaikkan harga jual, margin keuntungan mereka tergerus. Sebaliknya, jika harga dinaikkan, daya beli konsumen yang sudah melambat bisa semakin tertekan.

Biaya Liburan ke Luar Negeri Kian Berat

Bagi warga yang berencana bepergian ke luar negeri, kurs rupiah yang lemah membuat biaya perjalanan membengkak. Setiap Rp 1.000 yang dikeluarkan untuk membeli dolar AS kini hanya mendapat sekitar 5,7 sen dolar. Bandingkan dengan saat rupiah di level Rp 15.000 per dolar AS, nilai yang sama setara 6,6 sen dolar.

Artinya, biaya hotel, tiket pesawat, dan belanja di luar negeri menjadi lebih mahal sekitar 15-20% dalam setahun terakhir. Sektor pariwisata yang bergantung pada wisatawan domestik ke luar negeri diprediksi akan melambat.

Mengapa Rupiah Terus Tertekan?

Penguatan dolar AS kali ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data ketenagakerjaan AS yang masih solid membuat investor global kembali memarkir dananya di aset dolar.

Di sisi domestik, cadangan devisa Indonesia yang turun dalam beberapa bulan terakhir turut menekan sentimen. Pelaku pasar menunggu langkah Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan kurs. Intervensi BI di pasar valas diperkirakan terus dilakukan, namun tekanan global membuat ruang gerak terbatas.

Investasi mengandung risiko.

Berapa lama rupiah bisa kembali di bawah Rp 17.000?

Sulit diprediksi dalam jangka pendek. Pergerakan rupiah sangat tergantung pada data inflasi AS berikutnya dan keputusan suku bunga The Fed pada Juni 2026. Jika The Fed memberi sinyal pemangkasan suku bunga, rupiah berpotensi menguat kembali.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi?

Bagi yang memiliki kebutuhan dolar dalam waktu dekat, seperti biaya pendidikan atau perjalanan, disarankan membeli secara bertahap (dollar cost averaging) untuk mengurangi risiko beli di puncak. Untuk kebutuhan impor, pelaku bisnis bisa memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging) melalui perbankan.

Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks