PWM Aceh Teken MoU dengan Perusahaan Malaysia, Ekonomi Umat Berbasis Industri Jahit Mukena dan Jilbab Siap Bangkit

Penulis: Saiful  •  Senin, 25 Mei 2026 | 11:53:25 WIB
PWM Aceh dan perusahaan Malaysia resmi kerja sama tingkatkan industri jahit mukena dan jilbab.

BANDA ACEH — Aceh selama ini lebih banyak menjadi konsumen produk tekstil luar. Lewat kerja sama dengan R Ulong Global (M) SDN. BHD Malaysia, PWM Aceh ingin membalik keadaan itu menjadi basis industri muslim regional.

Isi MoU: Pelatihan di Malaysia dan Jaminan Pasar Ekspor

Memorandum Persefahaman (MoU) diteken pada 19 Mei 2026. Fokus utamanya adalah proyek jahitan berbasis pemberdayaan masyarakat dengan skema anchor-vendor. Artinya, pihak mitra dari Malaysia telah menyiapkan bahan baku sekaligus akses pasar internasional sehingga hasil produksi Aceh memiliki kepastian pembeli.

Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah program On Job Training (OJT) selama tiga hingga enam bulan di Malaysia. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja Aceh agar memenuhi standar produksi internasional.

Produk Unggulan: dari Mukena hingga Sarung Bantal

Produk yang akan dikembangkan tidak terbatas pada mukena dan jilbab. Rencananya, industri jahit ini juga akan memproduksi selimut, sarung bantal, hingga berbagai perlengkapan muslim lainnya yang berorientasi ekspor ke negara-negara muslim di Timur Tengah, Asia Tenggara, hingga Tiongkok.

Siapa Saja yang Terlibat? Siswa SMK hingga Pengurus Masjid

Ketua PWM Aceh, A Malik Musa, mengatakan bahwa siswa SMK jurusan tata busana dan menjahit akan dilibatkan dalam pelatihan ini. Namun, sasaran program tidak berhenti di situ.

“Kita ingin masjid juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Pengurus masjid bisa dilatih agar memiliki penghasilan tambahan, sehingga masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penguatan ekonomi masyarakat,” ujar A Malik Musa dalam keterangannya di Warung Kopi Sada Lambhuk, Banda Aceh, Sabtu (24/5/2026).

Dorong Regulasi: Jangan Sampai Peluang Terhambat Birokrasi

A Malik Musa menegaskan, momentum ini harus disambut serius oleh Pemerintah Aceh. Menurutnya, percepatan regulasi dan dukungan fasilitas bagi pelaku usaha, petani, dan generasi muda menjadi kunci agar Aceh tidak hanya mengurangi ketergantungan pada produk luar, tetapi juga mampu menjadi pusat industri muslim regional.

“Aceh punya peluang besar. Jangan regulasi dipersulit. Kita ingin anak-anak Aceh bisa dilatih menjahit mukena, jilbab, selimut hingga produk tekstil lainnya, lalu dijual di Aceh, Indonesia bahkan diekspor ke negara-negara muslim,” tegasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: suaramuhammadiyah.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top