Sajian pameran ini mengupas Bahasa Alas yang termasuk rumpun Austronesia dan memiliki kedekatan dengan bahasa Karo serta Gayo di Sumatra. Bahasa ini menjadi salah satu elemen penting yang menjaga identitas budaya masyarakat Alas.
Pengunjung juga dapat mempelajari sistem kekerabatan masyarakat Alas yang terdiri dari tiga unsur utama: Wali, Sukut atau Senine, serta Pebekhunen atau Malu. Ketiga fondasi ini menjadi dasar hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari dan pelaksanaan upacara adat.
Salah satu daya tarik utama pameran adalah pengenalan rumah tradisional Alas yang dikenal sebagai Umah Rejung. Rumah panggung berbahan kayu ini dirancang khusus untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam setempat.
Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Umah Rejung menjadi pusat berbagai aktivitas keluarga dan kegiatan adat masyarakat Alas. Struktur bangunannya mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan pegunungan yang khas.
Dalam kehidupan budaya Alas, kuda memiliki peran istimewa. Hewan ini digunakan dalam sejumlah tradisi adat, terutama pada prosesi khitanan dan pernikahan. Tradisi pemamanen yang melibatkan peran penting paman dari garis ibu menjadi contoh kuatnya nilai kekeluargaan yang masih hidup.
Kekayaan budaya Alas juga tercermin dalam seni dan adat istiadat. Musik tradisional yang menggunakan gendang, gong, dan seruling mengiringi berbagai perayaan adat. Sementara itu, pakaian adat Alas yang kaya warna dan motif menjadi simbol identitas yang masih digunakan dalam berbagai acara penting hingga kini.
Melalui sajian pameran Etnis Alas, Museum Aceh mengajak pengunjung mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya yang tumbuh dan berkembang di Tanoh Alas. Kehadiran sajian ini menjadi bagian dari upaya museum dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan memperkenalkan keragaman budaya Aceh kepada generasi sekarang maupun yang akan datang.
Pameran ini terbuka untuk umum di lantai 4 Gedung Pameran Tetap Museum Aceh, Banda Aceh.