UIN Ar-Raniry Banda Aceh Libatkan 13 Mahasiswa Disabilitas untuk Rumuskan Layanan Perpustakaan Inklusif

Penulis: Fajar  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 00:04:32 WIB
Tim dosen UIN Ar-Raniry melibatkan 13 mahasiswa disabilitas dalam penelitian layanan perpustakaan inklusif.

BANDA ACEH — Tiga dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh tengah melakukan penelitian tentang kebutuhan informasi mahasiswa penyandang disabilitas. Riset ini menjadi langkah awal untuk memperkuat layanan perpustakaan yang lebih inklusif di kampus tersebut.

Penelitian melibatkan 13 mahasiswa penyandang disabilitas dari tujuh fakultas. Mereka terdiri dari mahasiswa dengan disabilitas netra, rungu, dan daksa. Hasil riset nantinya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan untuk menghadirkan akses informasi yang setara dan ramah bagi seluruh sivitas akademika.

Mengidentifikasi Kebutuhan dari Tiga Ragam Disabilitas

Ketua tim peneliti, T Mulkan Safri MIP, mengatakan penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan informasi secara komprehensif. Mulai dari jenis informasi, media, hingga format penyajian yang sesuai dengan karakteristik masing-masing ragam disabilitas.

“Perpustakaan yang inklusif tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas fisik yang mudah diakses, tetapi juga dari kemampuannya menyediakan informasi dalam format yang sesuai dengan kebutuhan setiap pengguna,” ujar Mulkan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Unit Layanan Disabilitas (ULD) UIN Ar-Raniry.

Penelitian berjudul “Analisis Kebutuhan Informasi Mahasiswa Disabilitas sebagai Dasar Pengembangan Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Inklusif di UIN Ar-Raniry Banda Aceh” ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tim melakukan observasi partisipatif dengan melibatkan langsung mahasiswa disabilitas menguji aksesibilitas fasilitas perpustakaan.

Fasilitas Fisik Sudah Ada, Koleksi Aksesibel Masih Perlu Dikuatkan

Hasil observasi awal menunjukkan UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry telah memiliki sejumlah fasilitas yang cukup aksesibel bagi mahasiswa penyandang disabilitas fisik. Fasilitas itu meliputi jalur landai (ramp) dengan kemiringan memadai, pintu RFID yang memudahkan akses pengguna kursi roda, serta toilet khusus disabilitas.

Meski begitu, Mulkan menilai masih ada pekerjaan rumah yang perlu diperkuat, terutama dalam penyediaan koleksi dan sumber informasi dalam format aksesibel. “Fasilitas fisik sudah semakin baik, tetapi akses terhadap informasi juga harus menjadi prioritas. Ketersediaan koleksi dalam format yang ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas netra maupun rungu masih perlu diperkuat,” katanya.

Tim peneliti juga melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) untuk menggali pengalaman, kebutuhan, serta kendala yang dihadapi mahasiswa. Tahapan berikutnya akan dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan untuk memvalidasi hasil dan menyusun rekomendasi kebijakan.

Policy Brief Jadi Acuan Kebijakan Perpustakaan ke Depan

Tim peneliti terdiri dari T Mulkan Safri dan Siti Aminah dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, serta Suci Fajarni dari Program Studi Sosiologi Agama. Riset ini merupakan bagian dari skema Penelitian Dasar Pengembangan Program Studi yang didanai Litapdimas Kementerian Agama RI.

Sebagai luaran, tim akan menyusun policy brief yang berisi rekomendasi strategis untuk pengembangan perpustakaan inklusif. Dokumen itu diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan, pengembangan koleksi aksesibel, penyediaan teknologi pendukung, peningkatan kapasitas pustakawan, serta penyempurnaan layanan perpustakaan yang lebih responsif.

Berdasarkan data ULD UIN Ar-Raniry, saat ini ada 13 mahasiswa penyandang disabilitas yang aktif kuliah. Keberadaan mereka menjadi pengingat pentingnya menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang menjamin kesetaraan akses tanpa diskriminasi, khususnya menjelang perkuliahan Tahun Akademik 2026/2027.

Reporter: Fajar
Sumber: sagoetv.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top