ACEH — Sebuah perangkat genggam berwarna kuning mungil mendadak menyita perhatian komunitas teknologi dan pecinta jam. Bukan karena spesifikasi gahar atau game terbaru, melainkan karena perannya dalam menjaga ketepatan waktu lonceng Big Ben di London.
Dalam episode terbaru acara perjalanan National Geographic, Best of the World with Antoni Porowski, pemirsa diperlihatkan bagaimana Andrew Strangeway, montir jam resmi Houses of Parliament, menggunakan Playdate miliknya untuk keperluan kalibrasi. Perangkat ini membantunya memeriksa apakah lonceng besar di menara Elizabeth sudah berdentang pada waktu yang tepat.
Playdate bukanlah barang baru bagi Strangeway. Dalam unggahan sebelumnya, ia dan rekan kerjanya sudah terlihat memanfaatkan konsol ini saat persiapan menyambut Tahun Baru 2025 di penghujung 2024 lalu. Saat itu, Playdate digunakan untuk memastikan Big Ben berdentang tepat pada tengah malam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Playdate, yang dirancang sebagai konsol game indie dengan engkol sebagai kontrol unik, memiliki kemampuan yang melampaui fungsi hiburan. Perangkat ini bisa diprogram ulang dan diisi aplikasi kustom, menjadikannya alat yang fleksibel untuk berbagai tugas teknis.
Panic, pengembang di balik Playdate, menanggapi kemunculan ini di platform Bluesky. Mereka menekankan bahwa fleksibilitas Playdate bukanlah kebetulan. Perusahaan menyebut, "for real, though, this is the kind of surprising magic that happens when you make hardware that's easy to program for, sideloadable, and with a nice SDK!"
Pernyataan ini menggarisbawahi poin penting: kemudahan akses untuk mengembangkan aplikasi sendiri (sideloading) dan ketersediaan software development kit (SDK) yang baik membuat Playdate bisa diadaptasi untuk kebutuhan non-game. Montir seperti Strangeway bisa menulis program sederhana untuk membantu pekerjaan presisi mereka, sesuatu yang sulit dilakukan di konsol genggam mainstream.
Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana perangkat keras yang terbuka dan mudah dimodifikasi bisa melahirkan solusi tak terduga. Bagi penggemar gawai di Indonesia, ini bisa menjadi pelajaran berharga: terkadang, nilai sebuah perangkat tidak hanya terletak pada spesifikasi mentah, melainkan pada ekosistem dan fleksibilitas yang ditawarkan.
Meskipun tidak dijual resmi di Indonesia, Playdate tetap menjadi objek menarik bagi para tech enthusiast yang gemar mengeksplorasi batasan perangkat keras. Kejadian di Big Ben ini membuktikan bahwa inovasi sering muncul dari penggunaan yang tidak lazim, dan sebuah konsol game kecil bisa menjadi alat vital di tempat yang paling tidak terduga.