ACEH SELATAN — Langkah ini diambil menyusul kondisi ribuan pohon pala milik petani yang sudah berusia tua dan menurun drastis hasil panennya. Padahal, Aceh Selatan selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sentra produksi pala di Provinsi Aceh.
"Dulu Aceh Selatan dikenal karena kejayaan pala. Kini saatnya kita membangun kembali kejayaan itu melalui komoditas-komoditas unggulan baru seperti alpukat premium, kopi, dan durian," kata Mirwan di Aceh Selatan, Jumat.
Tanaman pala yang tersebar di sejumlah kecamatan di Aceh Selatan rata-rata sudah berusia puluhan tahun. Akibatnya, produktivitasnya terus menurun dan tidak lagi menguntungkan secara ekonomi bagi petani.
Bupati menyebut kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Alih-alih mempertahankan tanaman yang sudah tidak produktif, petani didorong untuk beralih ke komoditas lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan prospek pasar yang jelas.
Pemkab Aceh Selatan tidak asal menunjuk tanaman pengganti. Tiga komoditas yang direkomendasikan—alpukat premium, kopi, dan durian—dianggap cocok dengan kondisi tanah dan iklim di wilayah tersebut.
"Kami mengajak petani melakukan diversifikasi tanaman dari pala kepada komoditas lainnya, sehingga masyarakat petani memiliki sumber pendapatan lainnya," ujar Mirwan.
Bupati mengakui program diversifikasi ini tidak akan berjalan tanpa dukungan semua pihak. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kemajuan sektor pertanian harus dibangun dengan semangat kebersamaan antara pemda, petani, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Mirwan juga mengingatkan petani untuk terus menjaga kualitas hasil pertanian dan saling berbagi pengalaman. "Jangan pernah berhenti berinovasi. Insya Allah, dengan kerja keras dan kebersamaan, kesejahteraan masyarakat Kabupaten Aceh Selatan akan terus meningkat," katanya.
Langkah diversifikasi ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan petani dari kerugian akibat tanaman pala yang tua, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.