BANDA ACEH — Sebanyak 40 makalah ilmiah lolos seleksi ketat dalam The 7th Aceh International Symposium on Civil Engineering (AISCE) 2026, dengan 56 persen di antaranya berasal dari peneliti luar negeri. Angka ini menunjukkan tingginya minat global terhadap isu ketahanan infrastruktur di kawasan rawan bencana seperti Aceh.
Mengusung tema Resilient Infrastructure under Climate Change, simposium ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari Inggris, Jepang, Irak, Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Fokus utama diskusi adalah inovasi rekayasa sipil yang mampu bertahan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk cuaca ekstrem yang kian sering terjadi di Aceh.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis USK, Dr. Ir. Ramzi Adriman, menegaskan bahwa tema tahun ini sangat relevan dengan kondisi terkini. "Melalui konferensi ini kami berharap lahir berbagai solusi inovatif yang dapat memperkuat ketahanan infrastruktur, tidak hanya bagi Aceh tetapi juga untuk masyarakat global," ujarnya saat membuka acara.
AISCE 2026 menghadirkan tiga pembicara utama. Dr. Khamarrul Azahari Razak dari Universiti Teknologi Malaysia, Dr. Ezri Hayat dari Teesside University Inggris, serta Prof. Dr. Syamsidik dari Universitas Syiah Kuala. Mereka membahas strategi pembangunan infrastruktur berbasis mitigasi risiko, pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, hingga pengembangan bangunan evakuasi tsunami berbasis tsunami fragility curve di Banda Aceh.
Ketua Panitia, Dr. Muhammad Ahlan, mengatakan tingginya partisipasi internasional membuktikan AISCE semakin diakui sebagai wadah pertukaran pengetahuan. "Peserta berasal dari Inggris, Jepang, Irak, Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Tingginya partisipasi internasional menunjukkan AISCE semakin menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan kolaborasi riset di bidang teknik sipil," jelasnya.
Kepala Departemen Teknik Sipil USK, Dr. Ir. Yusria Darma, berharap simposium ini mampu membuka peluang kolaborasi akademik jangka panjang dan memperkuat jejaring penelitian internasional. Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik USK, Prof. Dr. Ir. Iskandar, menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri agar solusi rekayasa yang dihasilkan benar-benar aplikatif di lapangan.
Melalui penyelenggaraan AISCE 2026, USK menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi internasional, meningkatkan kualitas riset, serta mendorong lahirnya inovasi rekayasa untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim di Aceh dan sekitarnya.