Prentis, AI Lab Bentukan Reid Hoffman, Kumpulkan $100 Juta untuk Otomatisasi Kantor

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:35:01 WIB

ACEH — Prentis fokus pada satu keyakinan: mengotomatiskan pekerjaan kantor sehari-hari akan segera menggeser coding sebagai kasus penggunaan AI terbesar. Untuk mewujudkannya, startup yang baru resmi beroperasi sejak April 2025 ini melatih model yang bisa "melihat" dan mengendalikan komputer seperti manusia—mulai dari membuka dokumen, mengisi formulir, hingga memproses data di berbagai sistem.

Mengapa Prentis Berbeda

Alih-alih membuat AI yang menulis kode, Prentis mengembangkan computer use models. Model-model ini dirancang untuk meniru alur kerja karyawan kantor: navigasi antar-aplikasi, mengekstrak informasi, dan menjalankan tindakan rutin yang biasanya membutuhkan operator manusia.

Tim menyebut pendekatan ini lebih praktis. Misalnya, menangani klaim asuransi atau mengurus pengecualian bea cukai barang—tanpa perlu staf memburu dokumen satu per satu. Prentis mengklaim model mereka, Hive-32B, mampu menyelesaikan tugas di aplikasi Windows nyata dengan akurasi lebih tinggi dari GPT-5.4 milik OpenAI maupun Claude Opus 4.6 milik Anthropic, berdasarkan tolok ukur internal WindowsAgentArena dan ScreenSpot-v2.

Keunggulan lain disebut dari sisi biaya. Prentis mengatakan biaya per tugas model mereka sekitar 10 kali lebih murah dibandingkan API model frontier lainnya, sehingga lebih ekonomis untuk diterapkan di skala perusahaan.

Siapa di Balik Prentis

Prentis digawangi tiga nama besar. CEO Ritankar Das, 31 tahun, adalah pendiri Titan—perusahaan induk yang membangun dan mengoperasikan startup AI. Das lulus dari UC Berkeley di usia 18 tahun dengan nilai tertinggi dalam seabad terakhir, meraih master dari Oxford, dan sempat menjadi Gates Cambridge Scholar sebelum keluar dari program PhD AI di Cambridge untuk mendirikan Titan pada 2014. Ia mendeskripsikan Titan sebagai "Berkshire Hathaway versi AI" yang didanai oleh hasil exit sendiri, bukan investor eksternal.

Dua pendiri lain adalah Reid Hoffman (co-founder LinkedIn, partner Greylock, mantan investor awal OpenAI dan co-founder Inflection AI) serta Mark Pincus (pendiri Zynga, kini menjalankan Reinvent Capital). Hoffman baru saja mundur dari dewan Microsoft untuk fokus pada startup AI lain, Manas AI, yang bergerak di penemuan obat.

Kontrak dan Target Finansial

Meski baru berumur beberapa bulan, Prentis sudah mengantongi kontrak senilai hingga $50 juta dari beberapa klien besar: perusahaan manajemen layanan kesehatan, pabrikan, serta produsen barang dan pakaian. Investor materials yang dilihat TechCrunch memperkirakan annualized run rate mencapai $75 juta pada kuartal III-2025, meski angka tersebut masih bergantung pada kinerja—biaya kontrak dihitung 20% dari penghematan yang terealisasi, bukan pendapatan yang diakui.

Startup ini telah merekrut lebih dari 25 karyawan, termasuk peneliti yang sebelumnya bekerja di OpenAI, Google DeepMind, Meta, Tencent, dan Alibaba.

Persaingan dan Prospek

Pasar computer use model mulai ramai. Anthropic—yang baru saja mengakuisisi startup Vercept di Seattle—serta OpenAI dan Thinking Machines Lab milik Mira Murati (mantan CTO OpenAI) juga mengembangkan agen AI serupa. Prentis mengklaim keunggulan efisiensi biaya dan spesialisasi pada tugas kantor yang sangat konkret sebagai pembeda utama.

Bagi pengguna Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meski belum ada informasi ketersediaan di pasar lokal, tren agen AI yang bisa mengotomatiskan pekerjaan administratif berpotensi mengubah cara perusahaan—dari perbankan hingga e-commerce—menangani proses bisnis harian. Untuk saat ini, Prentis masih harus membuktikan klaim benchmark-nya secara independen dan bersaing di pasar yang semakin sesak.

Reporter: Fajar
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top