20 Hektare Sawah di Aceh Besar Terancam Kekeringan, Pemkab Kerahkan Pompa Air untuk Cegah Gagal Panen

Penulis: Ragil  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:10:01 WIB
Petugas mengoperasikan pompa air untuk mengalirkan air ke sawah seluas 20 hektare di Gampong Mereu Ulee Titi, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

JANTHO — Ancaman gagal panen di tengah musim kemarau mulai melanda sentra produksi padi di Aceh Besar. Pemerintah kabupaten bergerak cepat dengan mengerahkan belasan unit pompa air untuk menyelamatkan area persawahan yang mulai mengering, salah satunya di Gampong Mereu Ulee Titi, Kecamatan Indrapuri.

Luas lahan yang menjadi prioritas penanganan di kawasan tersebut mencapai 20 hektare. Persoalan utamanya bukan sekadar minimnya debit air, melainkan posisi saluran irigasi yang berada lebih rendah dari permukaan sawah. Akibatnya, ketika volume air menyusut, aliran tidak mampu menjangkau seluruh petak lahan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar, STP, menjelaskan bahwa pompa yang difasilitasi digunakan untuk memindahkan air dari sumber yang tersedia menuju areal persawahan. Dengan cara ini, tanaman padi diharapkan tetap memperoleh pasokan air meski musim kemarau sedang berlangsung.

“Fasilitasi pompa ini merupakan langkah cepat untuk mengatasi kekurangan air di areal persawahan yang terdampak kemarau. Dengan adanya pompa tersebut, air dapat dialirkan ke lahan pertanian sehingga petani tetap bisa mengolah sawahnya dan potensi gagal panen dapat dicegah,” ujar Imam.

Mengapa Saluran Irigasi di Indrapuri Tak Mampu Mengairi Sawah?

Menurut Imam, kendala teknis di lapangan menjadi faktor utama yang memperparah dampak kemarau. Posisi saluran irigasi yang lebih rendah membuat distribusi air tidak efektif saat debit sungai menurun drastis. Kondisi ini membutuhkan intervensi mekanis berupa pompa untuk menaikkan permukaan air.

“Persawahan di kawasan Mereu Ulee Titi memiliki luas sekitar 20 hektare. Permasalahan utama di lokasi ini adalah posisi saluran irigasi yang lebih rendah sehingga saat debit air menurun pada musim kemarau, sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air yang cukup,” terangnya.

Imam menambahkan bahwa langkah pompanisasi ini merupakan arahan langsung dari Bupati Aceh Besar sebagai wujud dukungan terhadap petani. Upaya tersebut difokuskan pada kawasan pertanian yang masih memiliki sumber air agar produktivitas lahan tetap terjaga.

Bantuan Pompa Pinjam Pakai dari BWS Sumatera I

Dukungan datang dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Sebanyak 20 unit pompa air disiapkan melalui skema pinjam pakai sementara untuk mengantisipasi meluasnya area terdampak.

“Pompanisasi menjadi salah satu solusi cepat untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait agar kebutuhan air bagi lahan pertanian masyarakat dapat terpenuhi,” ujarnya.

Harapan Petani: Pompa Baru untuk Gantikan Mesin Rusak

Di tengah upaya pemerintah, petani setempat mengaku terbantu dengan adanya pompa pinjam pakai tersebut. Muhammad Nazar (51), salah seorang petani di Gampong Mereu Ulee Titi, menyebutkan bahwa pompa milik kelompok taninya sudah lama rusak dan tak mampu lagi dihidupkan.

“Pompa yang kami miliki sudah rusak dan mesinnya tidak bisa dihidupkan lagi. Kami sangat berterima kasih atas bantuan pompa pinjam pakai ini. Harapan kami ke depan bisa mendapatkan pompa yang baru agar pengairan sawah tetap berjalan dengan baik saat musim kemarau,” kata Muhammad Nazar.

Pihak Dinas Pertanian Aceh Besar memastikan akan terus memantau kondisi lahan dan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk kebutuhan tambahan jika kekeringan meluas ke kecamatan lain.

Reporter: Ragil
Sumber: nukilan.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top