ACEH - Festival budaya di Aceh, mulai dari Pekan Kebudayaan Aceh sampai perayaan hari besar Islam tingkat kabupaten, hampir selalu menghadirkan pertunjukan tarian tradisional sebagai acara puncak. Buat wisatawan atau warga baru yang belum familiar, berikut panduan singkat sepuluh tarian yang paling sering tampil dan apa yang perlu diperhatikan saat menontonnya.
Setiap tarian punya durasi dan formasi yang beda, jadi tahu sedikit latar belakangnya bisa bikin pengalaman nonton jauh lebih berkesan ketimbang cuma lihat gerakan cepat tanpa konteks.
Tari Saman biasanya jadi nomor pembuka di acara-acara besar karena daya tariknya yang sudah mendunia. Kalau nonton langsung, perhatikan kekompakan tepuk tangan dan tepuk dada para penari, karena semakin rapi formasinya semakin tinggi nilai pertunjukannya di mata juri festival.
Tari Seudati biasanya tampil dengan formasi berdiri dan tempo yang lebih cepat. Penonton yang datang ke Pekan Kebudayaan Aceh sering menjadikan sesi Seudati sebagai momen paling dinanti karena energi penampilannya.
Kalau melihat penari membawa properti seperti tali atau jaring, itu tandanya sedang menyaksikan Tari Tarek Pukat yang menggambarkan aktivitas nelayan menarik jaring ikan. Properti ini yang membuat tarian ini gampang dikenali di antara deretan penampilan lain.
Tari Likok Pulo dari Pulau Aceh biasa tampil dengan formasi duduk berbaris mirip Saman, tapi dengan tambahan gerakan kepala yang lebih menonjol. Tarian ini sering jadi kejutan tersendiri buat penonton yang belum pernah lihat sebelumnya.
Dua tarian ini biasa dibawakan penari perempuan dengan syair pujian keagamaan. Kalau ingin tahu jadwal tampil, biasanya panitia festival menempatkan segmen ini di sesi sore menjelang senja, jadi cocok buat yang mau nonton sambil menghindari terik matahari.
Kalau festival yang dikunjungi mengangkat tema budaya Gayo, tiga tarian ini biasanya jadi andalan. Rapai Geleng gampang dikenali dari suara rebana rapai yang mengiringi gerakan menggeleng kompak, sementara Tari Didong sering dikemas dalam format lomba berbalas pantun antar kelompok yang seru buat disaksikan sampai akhir.
Tari Bines biasanya diletakkan sebagai penutup acara karena nuansanya yang lembut dan menyambut, cocok jadi penutup rangkaian penampilan yang sebelumnya energik.
Datang lebih awal untuk dapat posisi duduk yang nyaman, siapkan kamera karena banyak momen kostum dan properti yang sayang dilewatkan, dan jangan ragu bertanya ke panitia atau warga sekitar soal jadwal tampil tiap tarian karena urutannya bisa berubah tergantung acara.