BANDA ACEH — Ancaman bencana hidrometeorologi tengah menghantui Aceh. BMKG menetapkan status waspada potensi hujan lebat di provinsi paling barat Indonesia itu sepanjang bulan September, setelah sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan kategori siaga untuk hujan sangat lebat.
Kondisi ini memantik respons cepat Pemerintah Aceh. Gubernur Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem langsung mengajak seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk bergerak, tidak sekadar menunggu bencana terjadi.
Mualem menegaskan bahwa informasi potensi peningkatan curah hujan harus menjadi perhatian serius bagi seluruh jajaran pemerintah dan unsur terkait. Ia meminta langkah pencegahan serta mitigasi diutamakan sejak dini untuk menekan risiko bencana.
"Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, dan bencana lainnya di sejumlah wilayah," kata Mualem, Rabu (2/9) sore.
Menurut mantan panglima GAM itu, upaya mitigasi yang cepat dan terkoordinasi adalah kunci untuk meminimalkan korban di tengah masyarakat.
Seruan kesiapsiagaan itu mengemuka saat Mualem bersilaturahmi dengan Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan dan Ketua DPRA Zulfadhli. Pertemuan tiga pimpinan daerah ini difokuskan pada penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengungkapkan bahwa komunikasi antarlembaga ini penting untuk menjaga stabilitas daerah. Pemerintah Aceh, TNI, Polri, serta pemerintah kabupaten/kota diminta memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan bencana.
"Komunikasi antarlembaga penting untuk menjaga stabilitas daerah dan memastikan berbagai persoalan dapat kita antisipasi secara bersama," pungkas Nurlis.
Sinergi yang dibangun bukan sekadar formalitas. Pemerintah Aceh bersama seluruh unsur terkait perlu memperkuat koordinasi dan mempercepat respons di lapangan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat penanganan ketika hujan deras mengguyur.
Mualem menekankan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membahas berbagai perkembangan dan kondisi terkini di Aceh, di luar isu kebencanaan.