ACEH — Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan bahan bakar minyak di Kabupaten Yahukimo, Papua Tengah, dalam kondisi mencukupi, dengan stok Solar di Fuel Terminal Timika mencapai sekitar 3,1 juta liter per Sabtu (17/10). Jaminan itu muncul di tengah tantangan cuaca ekstrem dan pendangkalan sungai yang menjadi jalur utama pengiriman BBM ke wilayah pegunungan tersebut.
Timika, Papua Tengah — Selain Solar, stok Pertalite di fasilitas yang sama tercatat sekitar 1,3 juta liter dan minyak tanah sekitar 800 ribu liter. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua dan Maluku, Ispiani Abbas, menyebut kondisi keseluruhan stok di FT Timika berada dalam keadaan baik.
"Fokus kami adalah memastikan pasokan BBM tersebut dapat terdistribusi secara maksimal dan berkelanjutan, baik ke SPBU-SPBU untuk kebutuhan masyarakat luas maupun ke para mitra strategis," ujar Ispiani dalam keterangan yang diterima di Timika, Minggu.
Pengiriman BBM ke Yahukimo bukan perkara mudah. Sungai menjadi jalur utama, dan kondisi alam kerap berubah cepat. Pendangkalan serta pasang-surut air memaksa Pertamina menyusun pola suplai khusus agar penyaluran ke SPBU tidak terputus.
Strategi yang dipakai adalah kombinasi armada. Dari Timika, pengiriman dimaksimalkan memakai kapal Landing Craft Transport (LCT) atau Self Propelled Oil Barge (SPOB) yang biasa beroperasi di perairan dangkal. Setelah itu, BBM diteruskan dengan longboat milik masyarakat untuk menjangkau Dekai dan wilayah Yahukimo.
Hingga Jumat (16/10), stok Pertalite di SPBU Yahukimo tercatat sekitar 16,4 ribu liter dan Solar sekitar 19,3 ribu liter. Pengiriman susulan dengan muatan masing-masing 5 ribu liter Pertalite dan 5 ribu liter Solar juga sudah bergerak menuju lembaga penyalur.
"Upaya pengiriman terus berjalan secara berkelanjutan. Kami terus bekerja keras memperkuat rantai pasok agar stok di SPBU selalu siaga melayani warga," kata Ispiani.
Pertamina tidak hanya melayani kebutuhan rumah tangga lewat SPBU. Pasokan untuk instansi negara dan sektor vital di Yahukimo, mulai dari TNI, Polri, PLN, hingga pelaku industri, tetap dijalankan sesuai volume permintaan dan mekanisme pengiriman yang mengacu pada perjanjian kerja sama (PKS).
Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait disebut terus berjalan erat. Tujuannya satu: memastikan kebutuhan energi di kabupaten berjuluk "Negeri di Atas Awan" itu terpenuhi tanpa hambatan.
Bagi warga Yahukimo, kepastian stok ini berarti aktivitas harian, distribusi barang, dan layanan publik tidak terganggu. Bagi Pertamina, tantangannya tetap sama: menjaga rantai pasok tetap hidup di wilayah yang jarak dan medannya menuntut kerja ekstra.