NAGAN RAYA — Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, berencana memanggil seluruh pimpinan pabrik kelapa sawit (PMKS) yang beroperasi di daerah itu. Pemanggilan tersebut merupakan respons atas merosotnya harga tandan buah segar (TBS) sawit yang dikeluhkan petani dalam beberapa waktu terakhir.
Harga TBS di tingkat petani dilaporkan turun drastis, jauh dari standar yang ditetapkan berdasarkan harga Crude Palm Oil (CPO) dunia. Kondisi ini dinilai mulai membebani ribuan pekebun sawit di Nagan Raya yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.
Bupati Minta Penjelasan Langsung
Bupati TRK menyatakan pemanggilan ini bertujuan untuk menggali penyebab pasti penurunan harga di lapangan. Ia ingin mendengar langsung penjelasan dari pihak pabrik mengenai mekanisme penetapan harga TBS yang mereka terapkan.
"Kami akan panggil pimpinan PMKS untuk duduk bersama. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga harga di petani anjlok," kata Bupati TRK dalam pernyataan yang diterima wartawan.
Tekanan Ekonomi di Tengah Petani
Penurunan harga TBS terjadi di saat biaya produksi kebun, seperti pupuk dan upah panen, justru terus meningkat. Para petani mengaku mulai kesulitan menutup biaya operasional kebun dan terpaksa menunda panen.
Nagan Raya merupakan salah satu sentra produksi sawit di pesisir barat Aceh. Ribuan kepala keluarga di sejumlah kecamatan seperti Seunagan, Kuala, dan Tadu Raya bergantung pada sektor perkebunan ini.
Apa Langkah Selanjutnya?
Setelah pertemuan dengan pimpinan pabrik, Bupati TRK akan mengevaluasi hasil pembahasan dan menentukan langkah kebijakan selanjutnya. Pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan akan berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi Aceh untuk mencari solusi jangka panjang.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga TBS dan melindungi petani dari praktik monopoli atau permainan harga yang tidak wajar. Para pekebun berharap ada intervensi nyata dari pemerintah agar harga kembali ke level yang menguntungkan.