BANDA ACEH — Kompleks pemakaman yang dikenal sebagai makam Siti Ula Syah, seorang ulama perempuan dari masa Kesultanan Aceh, kini tengah menjalani perbaikan fisik. Disdikbud Banda Aceh menurunkan tim teknis untuk melakukan konservasi pada sejumlah bagian makam yang mulai lapuk dan retak akibat faktor usia dan cuaca.
Kerusakan Akibat Usia dan Cuaca
Pihak Disdikbud menemukan beberapa bagian struktur makam, terutama pada nisan dan dinding pembatas, dalam kondisi yang memprihatinkan. "Batu nisan mulai aus dan beberapa bagian plester tembok pembatas sudah retak. Ini akibat hujan dan panas yang terus-menerus selama bertahun-tahun," ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Banda Aceh, T. Zulfikar, dalam keterangannya.
Proses Pemugaran: dari Pembersihan Hingga Rekonstruksi
Pemugaran dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pembersihan lumut dan kotoran yang menempel pada permukaan batu nisan dan struktur makam. Setelah itu, tim konservasi akan melakukan perbaikan pada bagian yang retak menggunakan material yang sesuai dengan bahan asli. Proses rekonstruksi hanya dilakukan pada bagian yang benar-benar rusak dan tidak mengubah bentuk asli situs.
Makam Siti Ula Syah: Saksi Sejarah Dakwah di Aceh
Siti Ula Syah dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang berperan dalam penyebaran Islam di pesisir Aceh pada abad ke-18. Makamnya selama ini menjadi salah satu destinasi ziarah dan juga objek studi bagi para peneliti sejarah dan arkeologi. Keberadaan situs ini juga menjadi pengingat akan peran penting ulama perempuan dalam peradaban Aceh.
Disdikbud berharap pemugaran ini selesai dalam beberapa pekan ke depan. Setelah rampung, kawasan makam akan kembali dibuka untuk umum dengan pengawasan yang lebih ketat agar keaslian situs tetap terjaga. Pihaknya juga berencana memasang panel informasi yang lebih lengkap di lokasi makam untuk memperkaya pengetahuan pengunjung.