PIDIE JAYA — Bagi Rini, masa pemulihan tidak berakhir saat lantai rumah telah bersih dari sisa lumpur. Itu hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menata kembali mata pencaharian agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi.
Di tepi jalan menuju Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, berdiri sebuah bangunan kecil sederhana. Di balik meja kasir, Takdirini, yang akrab disapa Rini, tampak merapikan jajanan di etalase. Deretan mi instan, minyak goreng, sabun, telur, hingga air mineral tersusun rapi di atas rak kayu buatan sendiri.
Nama “Cinderella” dan Makna di Baliknya
Warung itu ia beri nama Cinderella. Bagi Rini, nama itu bukan sekadar panggilan. Ia adalah lambang harapan; keyakinan bahwa dari keterbatasan dan masa sulit, kisah indah kelak akan terukir kembali.
“Sekarang pencarian mati total,” ujar Rini pelan, seolah menahan beban yang terasa berat di pundaknya.
Banjir yang Menghanyutkan Segalanya
Sebelum musibah itu datang, hari-hari Rini berputar di sekitar kantin SDIT An-Nur. Ia mengelola pesanan makanan dan menjajakan barang kebutuhan warga sekolah. Itulah satu-satunya sumber penghidupan keluarga.
Namun, arus deras yang turut membawa longsoran tanah mengubah segalanya. Bangunan sekolah retak dan rusak. Lapangan berubah menjadi aliran sungai yang liar. Aktivitas belajar mengajar terhenti. Kantin yang menjadi tumpuan lenyap tak berbekas.
Berjuang Seorang Diri dengan Keterbatasan Fisik
Sejak berpisah dari suaminya, Rini sendirian menggendong tanggung jawab sebagai ayah sekaligus ibu bagi keempat anaknya. Dua di antaranya telah berumah tangga, namun dua lainnya masih bersekolah dan menggantungkan harapan sepenuhnya padanya.
Kondisi fisik yang ia miliki—kedua kaki yang tumbuh lebih kecil dari ukuran biasa dan membuatnya berjalan dengan cara berbeda—tidak pernah dijadikan alasan untuk menyerah. Sejak lahir, ia telah terbiasa melangkah dengan caranya sendiri, mandiri dan tangguh.
Langkah Awal: Teras Rumah Jadi Warung Harapan
Dengan sisa keberanian yang ada, berbekal pinjaman kecil serta bantuan dari anak-anaknya, Rini mengubah teras rumahnya menjadi tempat berteduh bagi harapan. Barang-barang dagangan ia beli sedikit demi sedikit dari pasar. Hasil penjualan langsung diputar kembali untuk menambah stok.
“Kalau ada uang, langsung saya belikan barang lagi. Jadi belum bisa disisihkan,” tuturnya dengan senyum tipis.
Bantuan yang Ada dan yang Masih Dibutuhkan
Rini sudah menerima bantuan sembako dan dukungan ekonomi pascabencana. Namun, ia membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Ia mendambakan tambahan modal agar barang yang dijual lebih lengkap, serta bimbingan sederhana tentang cara mencatat pemasukan, pengeluaran, dan menghitung keuntungan.
“Saya ingin tahu cara mengatur keuangan yang benar, supaya usaha ini bisa tumbuh dan terus bertahan,” ucapnya penuh harap.
Di balik dinding warung kecil bernama Cinderella itu, Rini sedang merajut kembali harapan rizki untuk kehidupannya yang sempat putus. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia berjalan perlahan namun pasti, menuju masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan anak-anak yang ia cintai.