ACEH — Houston resmi menjadi salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Namun di George R Brown Convention Center, Jumat (13/6) pekan lalu, euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia itu nyaris tak terdengar. Ribuan kader Partai Republik Texas yang berkumpul untuk konvensi tahunan justru punya agenda yang jauh lebih panas: pemilihan umum paruh waktu November mendatang.
Gajah Hidup dan Isu Aborsi Lebih Menarik daripada Sepak Bola
Setelah Gubernur Greg Abbott menyelesaikan pidato 25 menit yang penuh kecaman terhadap Demokrat radikal, delegasi disuguhkan pemandangan tak biasa. Seekor gajah betina bernama Paige—lambang Partai Republik sejak 150 tahun lalu—berjalan di lorong utama aula. "Unity drives victory" tertulis di jubah putih yang dikenakannya.
Paige berhenti di tengah perjalanan dan buang air kecil. Ratusan orang berkerumun untuk menyaksikannya. Adegan itu menjadi hiburan yang lebih menarik ketimbang Piala Dunia yang akan digelar di kota mereka dalam dua tahun ke depan.
"Kami di Sini untuk Urusan Politik, Bukan Sepak Bola"
"Anda tidak akan menemukan penggemar sepak bola di sini. Kami di sini untuk urusan bisnis," kata Jo, delegasi dari Dallas yang mengenakan gaun berlambang bendera Amerika Serikat. "Saya tidak keberatan dengan sepak bola, tapi saya sama sekali tidak tertarik."
Keesokan harinya, anak-anak usia sembilan atau sepuluh tahun berdiri di pintu masuk aula konvensi. Mereka mengenakan kaus bertuliskan "Jadikan penghapusan aborsi sebagai prioritas legislatif nomor satu kami" dan membagikan selebaran. Di dalam ruangan, diskusi tentang kata-kata dalam kebijakan aborsi partai berlangsung alot. Seorang pria bahkan mengusulkan agar laki-laki mundur dari pemungutan suara terkait amandemen tersebut.
Kekhawatiran Anggaran Publik dan Harga Tiket Selangit
Michael, delegasi dari Abilene yang menempuh perjalanan enam jam, mengaku sadar Timnas AS menang 4-1 atas Paraguay malam sebelumnya. Tapi ia lebih khawatir soal dampak finansial Piala Dunia terhadap keuangan publik. "Saya pikir ada banyak uang dalam sepak bola dan mereka harus membayar sendiri," ujarnya sambil mengenakan topi MAGA 2024. "Kami sebagai pembayar pajak tidak seharusnya menanggung beban ini."
Ray dari Corpus Christi punya pandangan berbeda. Ia mengaku sangat ingin menonton pertandingan langsung, tapi mundur setelah melihat harga tiket 1.100 dolar AS (sekitar Rp 17,6 juta). "Seberapa sering Anda mendapatkan acara yang mempertemukan orang-orang dari seluruh dunia?" tanyanya. Namun ia juga membela kebijakan pemerintahan Trump yang dinilai banyak pihak membuat edisi Piala Dunia kali ini kurang terbuka.
Ketegangan Politik Lebih Dominan daripada Semangat Olahraga
Steve, peserta lain yang mengenakan lencana "Defend Texas, Defeat Sharia", mengaku takut dengan hasil pemilu paruh waktu. "Jika kita kehilangan DPR dan Senat, presiden kita tidak akan efektif lagi," katanya. Tapi ia mengakui sempat menonton Piala Dunia malam sebelumnya. "Sudah lama sejak terakhir kali saya menonton sepak bola. Lumayan menyenangkan," katanya.
Di luar aula konvensi, seorang pria bertopi Stetson dan rompi kulit dengan pisau besar terselip di pinggang kiri berjalan begitu saja. Piala Dunia 2026 mungkin akan menyedot perhatian dunia, tapi di Texas Republican Convention, gajah sungguhan dan perang politik masih jauh lebih penting.