PIDIE JAYA — Sawah yang sempat dipenuhi pasir dan lumpur akibat banjir bandang kini berubah menjadi hamparan bawang merah siap panen. Program percontohan penanaman tanaman rotasi yang diinisiasi Bank Indonesia ini berhasil mengembalikan produktivitas lahan di lima lokasi terdampak, dengan total luas sekitar 5 hektare.
Lahan Tertimbun Pasir 30 Cm, Kini Kembali Hijau
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Rina Sriwati, menjelaskan bahwa lahan di lokasi tersebut semula tertutup material banjir setebal 30 sentimeter yang didominasi pasir. Tim akademisi melakukan analisis tanah terlebih dahulu untuk mengetahui kandungan unsur hara sebelum memberikan rekomendasi pemupukan.
“Karakteristik lahan pascabanjir lebih sesuai ditanami komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai dibandingkan tanaman berkayu,” kata Rina. Untuk mendukung pertumbuhan tanaman, dibangun pula sistem penyiraman menggunakan sprinkler agar ketersediaan air tetap terjaga.
Harapan Baru Petani yang Sempat Pesimis
Salah satu petani dari Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh, Muhammad Nurdin, mengaku sempat putus asa karena sawah mereka tertutup pasir dan lumpur. “Kami sempat mengira sawah ini sudah tidak bisa ditanami lagi. Alhamdulillah, dengan pendampingan dan bantuan dari berbagai pihak, hari ini kami bisa memanen bawang merah. Ini menjadi harapan baru bagi kami,” ujarnya.
BI: Bukan Sekadar Tanam, Tapi Juga Akses Pasar
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa dukungan pihaknya tidak berhenti pada masa tanam. BI juga memberikan pendampingan pascapanen, pelatihan, hingga membuka akses pemasaran melalui agregator agar hasil panen petani memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
“Bawang merah merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. Karena itu kami ingin mendorong produksinya sekaligus membantu masyarakat yang terdampak bencana,” kata Agus. Selain bawang merah, BI juga mengembangkan budidaya cabai dan jagung di lokasi tersebut sebagai alternatif komoditas.
Pemkab Siapkan Rehabilitasi Lahan Rusak Berat
Plt Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya, Muhammad Nur, menyebut panen perdana ini menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian pascabencana. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh kini tengah menyiapkan rehabilitasi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat.
“Lahan sawah yang rusak berat akan dilakukan pengolahan secara gratis. Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh agar petani dapat kembali bercocok tanam secepatnya,” ujar Muhammad Nur.
Komitmen Bersama Tanggulangi Bencana Hidrometeorologi
Kegiatan panen perdana ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen bersama penanggulangan bencana hidrometeorologi. Komitmen tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Pidie, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Universitas Syiah Kuala, dan Tim Satgas Rekon. Selain itu, bantuan sarana dan prasarana juga diserahkan kepada kelompok sektor pertanian dan garam yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.