BANDA ACEH — Dari total 2.748 BUMDes yang tersebar di seluruh Aceh, baru 63 unit yang berhasil mencapai status maju. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan ribuan BUMDes lain yang masih berada di kategori perintis dan berkembang.
Kepala DPMG Aceh, Iskandar, menyebutkan bahwa BUMDes kategori maju tersebar di 12 kabupaten/kota. Aceh Utara menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 14 unit, disusul Bener Meriah dengan 10 unit, dan Aceh Tengah dengan 9 unit.
Kabupaten/Kota dengan BUMDes Maju Terbanyak
Berikut sebaran 63 BUMDes maju di Aceh berdasarkan data DPMG:
- Aceh Utara: 14 unit
- Bener Meriah: 10 unit
- Aceh Tengah: 9 unit
- Nagan Raya dan Bireuen: masing-masing 6 unit
- Pidie: 4 unit
- Kota Banda Aceh dan Aceh Tamiang: masing-masing 3 unit
- Aceh Barat, Pidie Jaya, dan Aceh Jaya: masing-masing 2 unit
- Kota Lhokseumawe dan Aceh Singkil: masing-masing 1 unit
Kriteria BUMDes Maju: Enam Sektor Wajib Dibenahi
Iskandar menjelaskan, status maju tidak diberikan sembarangan. Sebuah BUMDes dinilai berdasarkan tata kelola usaha yang profesional, akuntabel, serta sudah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PA-Des) juga menjadi syarat mutlak.
"Untuk BUMDes lainnya yang ingin menjadi kategori maju harus memperbaiki dan menguatkan tata kelola paling kurang mencakup enam sektor," ujar Iskandar di Banda Aceh, Selasa.
Keenam sektor itu meliputi kelembagaan (AD/ART, SOP, dan berbadan hukum), tata kelola keuangan yang akuntabel, pengelolaan usaha profesional, kemitraan dengan pihak luar, kepastian pasar untuk produk, serta kontribusi terhadap PAD dan kemanfaatan bagi warga desa.
Usaha BUMDes: dari Pangan hingga Pariwisata Desa
BUMDes di Aceh bergerak di beragam sektor usaha. Mulai dari pangan, jasa keuangan, air minum dalam kemasan, industri kecil, hingga pariwisata desa. Ada pula yang mengelola sampah, perikanan, peternakan, perdagangan, dan pertanian.
Saat ini, dari total 2.748 BUMDes, sebanyak 606 unit masih berstatus perintis, 512 unit kategori pemula, dan 1.567 unit dalam tahap berkembang. Artinya, mayoritas BUMDes di Aceh masih membutuhkan pendampingan intensif agar bisa naik kelas.
Pembinaan Berkelanjutan dari DPMG Aceh
Pemerintah Aceh melalui DPMG mengaku tidak berhenti memberikan pembinaan. Pelatihan keuangan, manajemen usaha, analisa usaha, hingga marketing terus digelar. Monitoring dan pendampingan juga dilakukan oleh DPMG kabupaten/kota bersama pendamping desa setempat.
"DPMG Aceh tidak henti-hentinya memberikan pembinaan melalui pelatihan keuangan, manajemen usaha, analisa usaha, marketing dan lainnya," tegas Iskandar.
Dengan jumlah BUMDes yang mencapai ribuan, target untuk meningkatkan jumlah BUMDes maju masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Aceh. Namun, keberadaan 63 BUMDes yang sudah terbukti maju diharapkan menjadi contoh konkret bagi desa-desa lain untuk berbenah.