BANDA ACEH — Perbincangan di linimasa media sosial Aceh beberapa hari terakhir didominasi satu topik: rencana rehabilitasi Meuligoe Wali Nanggroe. Warganet ramai memberikan tanggapan di Facebook, WhatsApp, hingga kolom komentar media lokal. Sebagian mendukung sebagai upaya pelestarian sejarah, namun mayoritas menyuarakan kegelisahan.
Jembatan Darurat dan Antrean Panjang yang Belakangan Usai
Di Bireuen, Jembatan Bailey Kutablang masih menjadi pemandangan yang melelahkan. Seorang pegiat literasi yang pulang kampung melaporkan harus menghabiskan hampir tiga jam hanya untuk melewati satu jembatan darurat. Kendaraan mengular, mesin dimatikan, dan pengendara turun membeli makanan dari pedagang asongan.
“Tidak terdengar umpatan kasar dalam kondisi yang sama sekali menyebalkan itu. Orang Aceh memang terkenal sabar. Namun, kesabaran bukan berarti persoalan telah selesai,” tulis Fajri, Kepala Sekolah dan pegiat literasi, dalam catatan yang dikutip SAGOE TV.
Delapan Bulan Pascabanjir, Jejak Lumpur Masih Tertinggal
Banjir besar yang melanda Aceh delapan bulan lalu meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Di banyak titik, lumpur masih mengendap di halaman rumah warga. Sawah belum kembali produktif. Jalan-jalan rusak masih menunggu perbaikan, dan aktivitas ekonomi di sejumlah daerah belum berjalan normal.
“Bencana tidak berakhir ketika air surut. Ia baru berakhir ketika masyarakat dapat kembali menjalani hidup secara normal,” tulis Fajri.
Prioritas Kebijakan: Rumah Rakyat atau Gedung Simbolik?
Dalam catatannya, Fajri menekankan bahwa setiap kebijakan publik memiliki bahasa prioritas, terutama saat sumber daya terbatas. Ia mempertanyakan logika di balik rehabilitasi Meuligoe di tengah kondisi darurat infrastruktur dasar warga.
“Bukankah rumah pertama yang harus dibangun setelah bencana adalah rumah rakyat? Bukankah jembatan pertama yang harus selesai adalah jembatan yang setiap hari dilalui rakyat?” tulisnya.
Aceh, menurut Fajri, pernah menjadi contoh dunia saat bangkit dari tsunami 2004. Kala itu, yang dipulihkan pertama kali adalah denyut kehidupan masyarakat: rumah, jalan, sekolah, dan pelabuhan. “Dunia datang membantu karena yang menjadi pusat perhatian adalah manusia,” ujarnya.
Harapan yang Perlu Dipulihkan Lebih Dulu
Fajri menegaskan bahwa masyarakat yang masih terdampak banjir tidak peduli kapan sebuah meuligoe selesai diperbaiki. Yang mereka butuhkan adalah kepastian: kapan anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa antre berjam-jam di jembatan darurat, kapan sawah dibersihkan dari lumpur, dan kapan harapan benar-benar pulih.
“Sebab dalam setiap bencana, yang paling membutuhkan rehabilitasi bukanlah bangunan. Melainkan harapan. Dan harapan itu selalu tumbuh ketika rakyat merasa bahwa mereka adalah prioritas utama,” pungkasnya.