LHOKSUKON — Jaringan irigasi di Desa Ulee Madon direhabilitasi hingga membuat sekitar 85 hektare dari total 105 hektare persawahan kembali terairi. Sejumlah petani telah memasuki panen perdana setelah aktivitas pertanian sempat terhenti sekitar enam bulan akibat banjir dan endapan lumpur yang menutup saluran pengairan.
Pemulihan tersebut menjadi bagian dari agenda rehabilitasi sektor pertanian dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra. Dokumen itu merencanakan rehabilitasi 27.483 hektare sawah di wilayah terdampak.
Enam Bulan Lahan Terendam, Petani Terpaksa Beli Beras
M. Nur (56), petani Desa Ulee Madon yang menggarap satu hektare sawah, mengaku kembali dapat menjalankan aktivitas pertanian setelah jaringan irigasi diperbaiki dengan bantuan pemerintah pusat. Selama enam bulan ia tidak bisa menggarap sawahnya karena banjir dan pengairan yang terganggu.
Kondisi itu turut memengaruhi kebutuhan rumah tangganya. Walau lahan ada, Nur terpaksa membeli beras ketika tidak dapat mengandalkan hasil panen sendiri.
"Kita sebagai masyarakat sudah kembali menggarap seperti semula karena irigasi sudah ada," ujar M. Nur.
Musim tanam telah selesai dan sawahnya kini memasuki masa panen. Sawah seluas satu hektare yang dikelolanya biasanya menghasilkan sekitar tujuh ton gabah dalam sekali panen.
Satgas PRR: Bencana Susulan Bisa Rusak Hasil Rehabilitasi
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengingatkan bahwa bencana susulan dapat menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Infrastruktur yang telah diperbaiki berisiko rusak kembali, sementara material yang sudah dibersihkan dapat menumpuk lagi.
"Sudah dibangun, jembatannya terseret lagi. Jalannya sudah dibangun, longsor lagi. Tumpukan lumpur yang sudah dibersihkan numpuk lagi di beberapa tempat," kata Tito dalam konferensi pers pada rapat koordinasi Satgas PRR di Kemendagri, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
Tito menegaskan pemulihan pascabencana juga dilihat pada aspek wilayah terdampak bisa aman dan produktif lagi, termasuk pengendalian sungai.
"Variabel yang kita lihat bukan hanya pengungsi, tapi juga sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya. Semua itu menjadi bagian dari pemulihan," kata Kasatgas Tito Karnavian.
Antisipasi Sedimentasi dan Saluran Pembuang Jadi Kunci
Penanganan lanjutan masih diperlukan terutama pada lahan yang terdapat endapan lumpur. Saluran pembuang perlu dibenahi untuk mengendalikan air berlebih ketika hujan kembali turun.
Dalam sektor pertanian, upaya itu dapat didukung melalui pemeliharaan jaringan irigasi, penanganan sedimentasi, serta pembenahan saluran pembuang agar kelebihan air dapat dialirkan dengan baik. Rehabilitasi infrastruktur pertanian diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi sawah dalam jangka pendek, tetapi juga mendukung keberlanjutan produksi saat petani menghadapi musim hujan berikutnya.
Bagi petani, pulihnya jaringan irigasi bukan sekadar perbaikan infrastruktur. Ketersediaan air memungkinkan mereka kembali berproduksi, mengurangi ketergantungan pada pembelian beras, dan memulihkan sumber penghidupan yang sempat terganggu akibat bencana.