ACEH — Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga melumpuhkan sektor pertanian. Sebanyak 50 hektare lahan sawah milik petani di wilayah itu terkubur material lumpur dan kerikil, memaksa pemulihan dimulai dari titik nol.
Banjir bandang yang dipicu intensitas hujan tinggi di hulu sungai membawa material vulkanik dan endapan. Air yang surut meninggalkan lapisan lumpur tebal serta tumpukan kerikil di atas lahan sawah yang sebelumnya siap tanam. Para petani di Kecamatan Kejuruan Muda menjadi pihak yang paling terdampak.
“Lahan kami tidak bisa ditanami sama sekali. Lumpur dan batu kecil menutupi seluruh permukaan,” ujar seorang petani setempat kepada waspada.id. Kondisi ini memaksa pemerintah daerah turun tangan sebelum musim tanam berikutnya tiba.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Tamiang bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP) setempat langsung bergerak setelah banjir surut. Tim pertama-tama melakukan pendataan luas lahan rusak dan tingkat keparahan kerusakan. Hasilnya, 50 hektare dikategorikan rusak berat dan membutuhkan intervensi mekanis.
Rehabilitasi dimulai dengan pembersihan material menggunakan alat berat. Lumpur dan kerikil dikeruk, lalu lahan diratakan kembali agar bisa diolah. Setelah itu, petani akan diberikan bantuan benih dan pupuk untuk mempercepat masa tanam.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Tamiang menyatakan bahwa target pemulihan adalah satu bulan ke depan. “Kami kejar agar petani bisa menanam paling lambat awal bulan depan,” katanya.
Setelah lahan bersih, tahap selanjutnya adalah pengembalian kesuburan tanah. Tim penyuluh lapangan akan mendampingi petani selama proses pengolahan dan penanaman. Selain itu, pemerintah kabupaten mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan pompa air guna mengantisipasi banjir susulan.
“Kami tidak hanya membersihkan, tetapi juga menyiapkan sistem drainase sementara agar kejadian serupa tidak langsung merusak lahan yang baru pulih,” ujar seorang pejabat dinas setempat.
Para petani berharap proses rehabilitasi berjalan lancar tanpa hambatan cuaca. Sebagian dari mereka sudah mulai menyiapkan lahan secara manual sambil menunggu alat berat menyelesaikan area yang lebih parah.
Kerugian akibat banjir bandang ini diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah per hektare, termasuk biaya pengolahan dan kehilangan hasil panen. Dengan dimulainya rehabilitasi, petani optimistis bisa kembali bertani pada musim tanam berikutnya.
Pemerintah Aceh Tamiang berjanji akan memantau perkembangan rehabilitasi secara berkala. Jika diperlukan, bantuan tambahan akan segera dikucurkan agar lahan sawah yang rusak tidak terbengkalai lebih lama.