ACEH — Perjalanan T. Rival Amiruddin dari balik kemudi labi-labi hingga menjadi bos perusahaan transportasi lintas Sumatera-Jawa menjadi cerita yang menarik perhatian publik. Namun, pengusaha asal Aceh itu tidak berhenti di dunia bisnis. Pada Mei 2026, ia resmi dipercaya memimpin DPW PSI Aceh setelah ditunjuk langsung oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.
Penunjukan Rival dinilai sebagai strategi partai untuk menghadirkan figur muda dengan latar belakang pengusaha dan pemahaman terhadap dunia kerja lapangan. Sebelum dikenal sebagai pemilik PO JRG (Jasa Rahayu Gumpeung) dan Mitra Rahayu, ia pernah menjalani profesi sederhana sebagai sopir labi-labi dengan trayek Tiro – Sigli dan Sigli – Merdu.
Pengalaman menjadi sopir angkutan umum menjadi fondasi bisnis Rival. Dari balik kemudi, ia belajar membaca kebutuhan transportasi masyarakat yang terus berkembang serta memahami denyut kehidupan warga kecil.
Mental kerja keras dan ketangguhan yang terbentuk di masa itu menjadi modal utama membangun kerajaan bisnis. Kini, armada PO JRG dan Mitra Rahayu melayani berbagai rute lintas provinsi di Pulau Sumatera hingga Pulau Jawa dan dikenal sebagai salah satu perusahaan asal Aceh yang mampu bertahan di tengah persaingan ketat.
Kesuksesan tidak membuat Rival melupakan masyarakat kecil. Ia rutin menggelar kegiatan sosial tahunan berupa santunan anak yatim, bantuan pendidikan, hingga berbagai bentuk kepedulian yang bersumber dari keuntungan usahanya.
Dalam berbagai momentum kebencanaan di Aceh, Rival juga turun langsung membantu masyarakat terdampak. Melalui komunitas Solidarity Squad bersama sejumlah seniman Aceh, ia menyalurkan bantuan kemanusiaan di delapan kabupaten/kota yang terdampak bencana beberapa waktu lalu.
Kiprah sosial dan bisnis Rival membuat namanya dikenal luas. Banyak kalangan menilai, ia merupakan figur pengusaha yang tidak hanya fokus membangun bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar.
Penunjukannya sebagai Ketua DPW PSI Aceh menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat konsolidasi politik PSI di Aceh dengan menghadirkan sosok yang memahami kebutuhan rakyat dari pengalaman langsung di lapangan.