ACEH — Pemerintah tak lagi ingin hasil riset perguruan tinggi hanya berakhir di laboratorium. Kementerian Pertanian (Kementan) memutuskan untuk langsung membeli inovasi yang sudah teruji, salah satunya dari IPB.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan, pihaknya telah membeli bibit unggul padi buatan IPB senilai Rp 250 miliar. "Contoh kami dengan IPB, ada bibit unggul padi dari IPB kami beli Rp 250 miliar," katanya dalam Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurut Amran, inovasi dari kampus mampu mendongkrak hasil pertanian secara signifikan. Ia mencontohkan, produktivitas padi yang sebelumnya rata-rata 5,5 ton per hektare bisa melonjak hingga 13,9 ton berkat penerapan teknologi baru.
"Ini hampir dua kali lipat produktivitas pertanian kita itu karena teknologi," ujarnya.
Tak hanya padi, riset di bidang peternakan juga menunjukkan hasil menjanjikan. Amran menyebut Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan sapi dengan bobot yang meningkat dari 500 kilogram menjadi satu ton.
Amran menekankan, kolaborasi tidak terbatas pada IPB. Beberapa perguruan tinggi lain juga telah menghasilkan inovasi yang siap diadopsi. Di antaranya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan traktor dan alat panjat kelapa, Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan bibit unggul, Universitas Andalas dengan riset gambir, serta Universitas Lampung dengan pengembangan ubi.
"Ini kolaborasi yang sangat baik. Karena penemuan-penemuan baru bisa membuat lompatan suatu produksi atau produktivitas," tegas Amran.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti permintaan Kementan. Ia akan mendata seluruh hasil riset perguruan tinggi yang siap dihilirkan, tidak hanya di bidang pangan tetapi juga teknologi pendukung seperti alat pertanian modern dan precision agriculture.
"Bapak Menteri Pertanian langsung meminta list produk-produk dari perguruan tinggi yang siap didukung oleh Kementerian Pertanian untuk dihilirisasikan maupun langsung dibeli," ujar Brian.
Menurut Brian, langkah ini penting agar penelitian tidak berhenti di kampus, melainkan bisa langsung digunakan oleh masyarakat dan industri. "Ini suatu kolaborasi yang sangat luar biasa. Kami dari perguruan tinggi akan menginventarisir mana yang sudah bisa dikerjasamakan," katanya.
Amran menambahkan, jika Indonesia ingin menjadi negara superpower di sektor pangan, inovasi dari kampus harus menjadi tumpuan utama. "Kalau mau kita menjadi superpower, tumpuannya, inisiatifnya, inovasi barunya dari kampus," pungkasnya.