MEULABOH — Dinas Peternakan Provinsi Aceh menggelar pelatihan bagi 15 pelaku usaha peternakan di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Kamis. Pelatihan ini menyasar berbagai lini usaha, mulai dari pengolahan daging bakso, pengolahan hasil ikutan seperti kulit, hingga peternak unggas petelur dan pedaging.
Target Pemasok Utama di Tengah Lonjakan Kebutuhan Daging
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Aceh Safridhal mengatakan pelatihan ini bertujuan agar pelaku usaha lokal tidak sekadar menjadi penonton. "Melalui pembekalan ini, para pelaku usaha lokal diharapkan tidak hanya menjadi penonton, melainkan siap menjadi pemasok utama yang menyediakan produk peternakan berkualitas tinggi, sehat, legal dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masyarakat Aceh," ujarnya di Aceh Barat.
Pemerintah Aceh memproyeksikan kebutuhan komoditas daging akan meningkat tajam dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar.
Standar ASUH dan Kewajiban NKV Jadi Syarat Utama
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diedukasi untuk memastikan produk yang dijual memenuhi standar ASUH, yakni Aman, Segar, Utuh, dan Halal. Selain faktor higienitas, pemerintah mendorong seluruh pelaku usaha peternakan di kabupaten/kota, termasuk Aceh Barat, agar segera mengurus Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
"Dengan adanya NKV, pengawasan ke depan akan jauh lebih mudah. Kami sangat berharap para pelaku usaha berkomitmen penuh untuk mengikuti aturan ini," kata Safridhal menambahkan.
Tiga Materi Kunci: Perizinan, Keamanan Pangan, dan Pengendalian Mikroba
Dinas Peternakan Aceh menghadirkan tiga pemateri ahli, termasuk akademisi dari perguruan tinggi, untuk membekali para pelaku usaha. Materi pertama membahas sistem penginputan OSS (Online Single Submission), yaitu tata cara mengisi data usaha secara mandiri untuk kemudahan perizinan.
Materi kedua adalah kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet), yang mengedukasi penjaminan keamanan produk hewan agar konsumen merasa aman dan nyaman saat mengonsumsinya. Materi ketiga membahas strategi pengendalian mikroba untuk mencegah kontaminasi pada produk hasil peternakan.
Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan sangat mengharapkan agar para pelaku usaha benar-benar berkomitmen menjaga higienitas dan sanitasi tempat usaha mereka. Langkah ini dinilai krusial untuk menciptakan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga aman dikonsumsi masyarakat luas.