BANDA ACEH — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan percepatan pemulihan infrastruktur di Aceh pascabencana tidak hanya berhenti pada pemulihan fungsi jalan. Melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, pemerintah kini fokus pada penanganan permanen di 36 titik yang tersebar di koridor Lintas Barat, Lintas Timur, dan Lintas Tengah.
Pekerjaan yang dilakukan mencakup rehabilitasi ruas jalan, pembangunan ulang jembatan, penguatan lereng, hingga perlindungan tebing sungai. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan komitmen pemerintah untuk memastikan akses transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
“Jalan nasional sudah kembali fungsional 100 persen dan penanganan permanen terhadap jembatan-jembatan daerah yang masih bersifat temporer akan dipercepat agar konektivitas pulih sepenuhnya,” kata Dody dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (3/7/2026).
20 Titik di Lintas Barat dan Timur: Jalan dan Jembatan Jadi Prioritas
Di koridor Lintas Barat dan Lintas Timur, BPJN Aceh menangani 20 lokasi yang terdiri dari 15 ruas jalan nasional dan lima jembatan. Beberapa ruas bahkan dikerjakan di lebih dari satu titik, disesuaikan dengan tingkat kerusakan di lapangan.
Untuk Lintas Timur, penanganan berlangsung di 17 lokasi. Ruas yang diperbaiki antara lain Beureunuen–Batas Pidie Jaya/Pidie, Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen, hingga Kota Kuala Simpang–Batas Provinsi Sumatera Utara. Empat jembatan yang turut diperbaiki adalah Jembatan Krueng Meureudu, Krueng Tingkeum, Pante Lhong, dan Ulee Langa.
Sementara di Lintas Barat, fokus pekerjaan berada di tiga titik: ruas Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya, ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhokseumot–Jeuram, serta Jembatan Krueng Beutong.
Lintas Tengah: 16 Lokasi Plus Penguatan Lereng untuk Cegah Bencana
Di koridor Lintas Tengah yang membentang di Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga Bener Meriah, Kementerian PU mengerjakan 16 lokasi. Tidak hanya memperbaiki badan jalan dan jembatan, proyek ini juga memperkuat lereng dan membangun perlindungan tebing sungai untuk mengurangi risiko kerusakan akibat bencana di masa depan.
Salah satu proyek yang menunjukkan progres signifikan adalah pembangunan permanen Jembatan Lawe Mengkudu I. Hingga 28 Juni 2026, progres fisiknya telah mencapai 83,72 persen dan ditargetkan rampung pada 31 Juli 2026. Jembatan lama yang rusak akibat bencana dibongkar total dan diganti dengan konstruksi baru yang lebih kuat.
Kementerian PU terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait agar pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat dan terintegrasi. Hal ini penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik di kawasan yang selama ini bergantung pada jalur darat.