BANDA ACEH — Penutupan pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Aceh bukan menjadi akhir dari rangkaian kegiatan, melainkan titik awal pembentukan sinergi baru antara insan pers dan pemerintah dalam isu kebencanaan. Juru Bicara Satgas PRR Aceh, Dr. Amran MT, secara resmi menutup pameran yang berlangsung selama sepekan tersebut, mewakili Kaposkowil Satgas PRR, Dr. Safrizal ZA.
Ketua Panitia Pameran, Eko Deni Saputra, menegaskan bahwa pameran foto ini memiliki fungsi lebih dalam dari sekadar ajang memajang karya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengingat peristiwa masa lalu, menilai ketangguhan masyarakat, sekaligus bahan pembelajaran agar lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan.
“Pameran ini bagi kami bukan sekadar menampilkan foto bencana, tetapi menjadi ruang untuk mengingat kembali apa yang terjadi, melihat ketangguhan masyarakat, dan belajar agar kita lebih siap menghadapi bencana ke depan,” ujar Eko, yang juga menjabat sebagai Sekretaris PFI Aceh.
Amran menilai bahwa rekaman visual yang dihasilkan para pewarta foto memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh laporan tertulis. Foto mampu menghadirkan kembali kondisi dramatis pascabencana yang mungkin sudah tidak terlihat lagi setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi selesai dilakukan.
“Sekarang kita masih fokus bagaimana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Tetapi yang bisa menyisakan pembelajaran yang sangat berarti adalah foto-foto rekaman dari para pewarta foto Indonesia,” kata Amran.
Menurut Amran, setidaknya ada tiga nilai penting yang terkandung dalam dokumentasi kebencanaan. Pertama, sebagai media edukasi dan mitigasi. Kedua, sebagai penguat kesadaran untuk menjaga lingkungan. Ketiga, sebagai sarana membangun kepedulian dan solidaritas sosial antarwarga.
Eko menyebutkan bahwa peringatan satu tahun bencana yang diperkirakan jatuh pada November mendatang dapat menjadi momentum strategis untuk kembali mengangkat isu kebencanaan ke permukaan. PFI Aceh menyatakan keterbukaan untuk berkolaborasi dalam berbagai format kegiatan, mulai dari pameran, diskusi, hingga program dokumentasi lanjutan.
“Kami berharap komunikasi dan kolaborasi yang sudah terjalin ini dapat terus berlanjut. Jika ada ruang dan kesempatan, tentu kami terbuka untuk bersama-sama menghadirkan kegiatan pameran foto, diskusi, dokumentasi, maupun edukasi kebencanaan,” katanya.
Ia menambahkan, ketika peran jurnalistik dan pemerintah disatukan, dokumentasi tidak hanya menjadi catatan sejarah semata. Lebih dari itu, karya tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran yang mendorong aksi nyata bagi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
Amran berharap karya-karya yang dipamerkan selama enam hari tersebut tidak berhenti di ruang museum. Publikasi melalui platform digital dinilai mampu menjangkau audiens yang jauh lebih luas dibandingkan pengunjung fisik pameran.
“Ini bukan akhir, tetapi awal. Saya yakin yang menyaksikan selama enam hari pameran Prahara Pulau Emas akan lebih banyak pascapameran ini, karena foto-foto yang bagus dapat dipublikasikan secara digital,” ujarnya.
Pameran Prahara Pulau Emas merupakan program roadshow yang digagas oleh PFI Pusat bersama Yayasan Riset Visual mataWaktu dan PLN. Setelah sukses digelar di Aceh, pameran foto dokumentasi kebencanaan ini akan melanjutkan perjalanannya ke Sumatera Utara.