ACEH - Menurut Majelis Adat Aceh, berbagai upacara adat Aceh yang masih dilestarikan hingga kini merefleksikan hubungan erat antara nilai agama, rasa syukur, gotong royong, serta penghormatan terhadap keluarga dan lingkungan, yang terus diwariskan lintas generasi. Kekayaan budaya ini terbentuk dari perjalanan sejarah panjang dan keberagaman masyarakatnya, di mana adat dan Islam menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak tradisi dilaksanakan bertepatan dengan momentum dalam kalender Hijriah seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, Nisfu Sya'ban, dan Maulid Nabi. Di balik kegiatan seremonial, terkandung nilai kebersamaan, kepedulian sosial, penghormatan kepada tokoh masyarakat, serta doa keselamatan. Majelis Adat Aceh bahkan mencatat berbagai jenis kenduri yang berkaitan dengan agama, kepercayaan, rumah tangga, pertanian, dan kehidupan masyarakat. Berikut beberapa tradisi yang masih bertahan.
Peusijuek atau peusijeuk adalah salah satu tradisi paling dikenal, dipakai dalam berbagai momentum mulai dari perkawinan, khitanan, keberangkatan haji, menempati rumah baru, hingga syukuran atas keberhasilan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan Peusijuek sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 1044/P/2020, termasuk dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan. Prosesi dilakukan dengan perlengkapan tradisional seperti beras padi, tepung tawar, daun tertentu, ketan, dan wadah khusus, dipimpin oleh tokoh agama atau adat sambil menyampaikan doa. Maknanya adalah ungkapan syukur kepada Allah dan permohonan keselamatan, keberkahan, serta kesejahteraan. Direktorat Jenderal Kebudayaan menjelaskan bahwa Peusijeuk berasal dari kata sijue yang berarti dingin, berkaitan dengan ketenteraman dan keselamatan. Penerapannya bisa berbeda antar daerah, ada yang dalam acara besar, ada pula yang sederhana seperti pembelian kendaraan atau kegiatan pertanian.
Meugang atau Makmeugang melekat kuat dengan identitas masyarakat Aceh, dilaksanakan menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha dengan memasak serta menyantap daging bersama keluarga. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menyebut tradisi ini telah berlangsung berabad-abad, bukan sekadar soal makanan, melainkan memiliki dimensi sejarah, sosial, budaya, dan religius. Daging sapi atau kambing menjadi hidangan umum yang dimasak dengan resep keluarga, dan semangat berbagi diwujudkan dengan memberikan makanan kepada keluarga, tetangga, serta yang membutuhkan. Nilai kebersamaan menjadi unsur penting, memberi kesempatan berkumpul setelah aktivitas masing-masing. Tradisi ini juga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui SK Penetapan Nomor 244/P/2016 dalam basis data Warisan Budaya Kemendikbud.
Kenduri Beureuat dilaksanakan pada pertengahan bulan Sya'ban atau Nisfu Sya'ban, biasanya di meunasah, masjid, musala, atau tempat berkumpul masyarakat. Istilah beureuat berkaitan dengan beureukat yang bermakna berkah, erat dengan doa, rasa syukur, dan harapan berkah dari Allah. Majelis Adat Aceh menjelaskan tradisi ini masih khas, terutama di pedesaan. Warga berkumpul membawa hidangan seperti idang, paket makanan berisi nasi dan lauk dalam talam, untuk dinikmati bersama. Kebersamaan menjadi kekuatan utama, tidak hanya untuk makan tetapi juga menjalin hubungan sosial dan mempererat komunikasi antarwarga.
Masyarakat Kluet di Aceh Selatan memiliki tradisi pertanian yang mengikuti tahapan pertumbuhan padi, mulai dari turun ke sawah, pengaliran air, perkembangan tanaman, hingga panen. Tradisi ini menunjukkan hubungan erat antara masyarakat, pertanian, dan lingkungan, dengan kenduri sebagai sarana syukur dan memperkuat hubungan antarpetani. Nilai gotong royong terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam mempersiapkan makanan dan menjalankan kegiatan bersama. Adat di sini berkembang mengikuti kebutuhan kehidupan, tidak berdiri sendiri.
Reuhab dikenal dalam masyarakat Alue Tuho, Kabupaten Nagan Raya, berkaitan dengan penghormatan terhadap anggota keluarga yang meninggal. Praktiknya menggunakan ruang atau kamar khusus untuk menyimpan benda peninggalan seperti pakaian terakhir dan perlengkapan tertentu. Keluarga melaksanakan kegiatan keagamaan seperti pengajian dan doa bersama. Makna sosialnya kuat: keluarga besar dan tokoh masyarakat berkumpul, sehingga proses berduka tidak dijalani individual, dan kehadiran masyarakat menjadi dukungan moral. Tradisi ini menjadi mekanisme sosial untuk mempererat hubungan keluarga dan komunitas.
Uroe Tulak Bala dikenal di kawasan barat dan selatan Aceh, berkaitan dengan doa bersama memohon perlindungan dari musibah. Majelis Adat Aceh menjelaskan tulak bala berbentuk kenduri saat menghadapi bala atau wabah, dengan sumbangan bersama dan doa dipimpin teungku atau tokoh agama. Pelaksanaannya berbeda antar daerah, ada yang di sekitar pantai, ada yang di lingkungan gampong. Sebagian kepercayaan tentang bulan atau hari tertentu merupakan keyakinan budaya yang tidak semua memiliki dasar keagamaan disepakati, sehingga perlu dipahami dalam konteks sejarah dan kebudayaan tanpa mencampurkannya dengan klaim keagamaan tanpa dasar kuat.
Perayaan Maulid di Aceh berlangsung meriah, secara tradisional dapat berlangsung dalam beberapa bulan setelah Rabiul Awal. Khanduri Pang Ulee melibatkan pemuda dan masyarakat bergotong royong menyiapkan tempat, makanan, dan kegiatan keagamaan. Hidangan seperti kuah beulangong hadir, dan memasak dalam jumlah besar menjadi bagian semangat kebersamaan. Kegiatan zikir, selawat, ceramah, dan pengajian memberi dimensi keagamaan kuat. Majelis Adat Aceh mencatat perayaan kenduri Maulid berlangsung dalam rangkaian bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal menurut tradisi penanggalan setempat.
Fungsi sosial membuat tradisi Aceh bertahan: menjadi ruang pertemuan untuk berkumpul, bekerja sama, berbagi makanan, berdoa, dan saling membantu. Peusijuek relevan karena hadir dalam berbagai fase kehidupan, Meugang bertahan karena terkait momentum keagamaan dan ikatan keluarga, Kenduri Beureuat dijalankan karena memberi kesempatan berdoa dan berkumpul. Pelestarian tidak berarti bentuk tradisi harus sama; perubahan zaman memungkinkan penyesuaian perlengkapan, tempat, dan cara selama nilai utama dipahami. Dokumentasi dan pendidikan budaya berperan penting, seperti pengakuan Peusijuek dan Mak Meugang sebagai Warisan Budaya Takbenda. Generasi muda memiliki peran besar, mengenal makna lebih penting daripada menghafal nama atau mengikuti prosesi. Dengan pemahaman ini, tradisi tetap hidup sebagai bagian identitas, bukan sekadar pertunjukan. Kekayaan tradisi Aceh memperlihatkan perpaduan kuat antara adat, agama, keluarga, gotong royong, dan penghormatan lingkungan, menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika maknanya dijaga.