Pencarian

Tanah Amblas di Ketol Kian Meluas, Jalur Penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah Terancam

Rabu, 14 Januari 2026 • 14:15:04 WIB
Tanah Amblas di Ketol Kian Meluas, Jalur Penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah Terancam
Jalur penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah terancam tertutup akibat pergerakan tanah lambat.

ACEH TENGAH – Fenomena tanah amblas yang menyerupai sinkhole terjadi di kawasan Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Kondisi tersebut dilaporkan terus berkembang dan kini semakin mendekati badan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik, jalur vital yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Bener Meriah.

Pergerakan tanah terpantau semakin mengkhawatirkan hingga Selasa (13/1/2026). Longsoran mendekati Jalan Buter–Pondok Balik, jalan kabupaten yang selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat, terutama untuk mobilitas harian dan distribusi hasil pertanian dari kawasan pedalaman.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukan kejadian baru. Ia menyebutkan pergerakan tanah di lokasi itu telah terdeteksi sejak tahun 2002 dan mengalami percepatan signifikan setelah gempa Gayo pada 2013.

“Pada tahun 2026 ini, aktivitas pergerakan tanah kembali meningkat. Jalur jalan yang sebelumnya sudah pernah direlokasi kini kembali berada dalam kondisi terancam,” ujar Andalika kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, posisi lubang longsoran saat ini sudah sangat dekat dengan badan jalan utama. Risiko pelebaran longsoran semakin besar, terutama saat intensitas hujan meningkat di wilayah pegunungan tersebut.

“Kondisi ini berbahaya bagi pengguna jalan. Karena itu, kami sudah memasang garis pengaman dan terus mengimbau masyarakat agar ekstra waspada saat melintas,” katanya.

BPBD Aceh Tengah juga meminta warga tidak mengambil jalur terlalu ke tepi jalan serta menghindari kawasan rawan, khususnya ketika cuaca ekstrem. Sebagai langkah antisipasi, jalur alternatif telah disiapkan jika sewaktu-waktu akses utama harus ditutup demi keselamatan.

“Untuk sementara, jalur alternatif masih bisa digunakan. Kami melakukan pemantauan setiap hari dan akan menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan secara berkala,” tambah Andalika.

Sementara itu, berdasarkan kajian teknis ESDM Aceh, longsoran yang terjadi di wilayah Kampung Bah dikategorikan sebagai pergerakan tanah lambat (slow moving landslide), bukan amblesan mendadak seperti sinkhole.

Material tanah di lokasi tersebut didominasi endapan vulkanik yang memiliki sifat mudah jenuh air, tidak stabil, serta rentan mengalami pergeseran. Karakteristik tanah ini memungkinkan air hujan meresap dengan cepat dan memicu pergerakan massa tanah secara perlahan namun berkelanjutan.

Faktor lain yang mempercepat longsoran meliputi curah hujan tinggi, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan retakan lama yang berfungsi sebagai jalur masuk air. Hasil visualisasi lapangan bahkan menunjukkan bidang gelincir longsoran dengan kemiringan mendekati sudut tegak lurus.

Data ESDM Aceh mencatat, hingga tahun 2025 luasan area longsoran telah melampaui 27 ribu meter persegi dan terus bergerak ke arah jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Kawasan tersebut kini diklasifikasikan sebagai zona dengan tingkat kerawanan pergerakan tanah yang tinggi dan memerlukan penanganan jangka panjang.

Saat ini, BPBD Aceh Tengah telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas ESDM untuk merumuskan langkah penanganan teknis, termasuk opsi relokasi trase jalan. Masyarakat diimbau untuk mematuhi rambu peringatan dan batas pengaman yang telah dipasang guna mencegah terjadinya kecelakaan.

Bagikan
Sumber: Kumparan

Berita Terkini

Indeks