Pencarian

Tanpa Kepastian Bantuan, Warga Sijudo Aceh Timur Bangun Huntara dari Kayu Sisa Banjir

Minggu, 22 Februari 2026 • 16:26:05 WIB
Tanpa Kepastian Bantuan, Warga Sijudo Aceh Timur Bangun Huntara dari Kayu Sisa Banjir
Warga Dusun Ranto Panyang Rubek membangun Huntara mandiri dari kayu sisa banjir bandang.

ACEH TIMUR – Menjelang bulan suci Ramadan, puluhan warga Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, terpaksa mengambil langkah mandiri. Tak ingin terus bergantung di tenda pengungsian yang serba terbatas, mereka mulai membangun Hunian Sementara (Huntara) menggunakan material sisa-sisa banjir bandang November 2025 lalu.

Langkah ini diambil warga sebagai bentuk protes sekaligus solusi nyata atas ketidakjelasan realisasi bantuan Huntara yang sebelumnya dijanjikan oleh pihak terkait.

Kondisi Terkini Penyintas Banjir Sijudo

Hampir tiga bulan pascabencana, mayoritas warga masih bertahan di bawah terpal pengungsian. Berikut adalah data kerugian dan progres pembangunan mandiri di lapangan:

Indikator DampakData Statistik
Total KK Terdampak46 Kepala Keluarga
Rumah Hilang/Hanyut32 Unit
Huntara MandiriSedang dibangun oleh ± 20 KK
Material UtamaKayu hanyut & seng bekas sisa banjir

Bertahan di Tengah Keterbatasan Menjelang Ramadan

Kepala Dusun Ranto Panyang Rubek, Mujahidin, mengungkapkan bahwa warga sudah lelah menunggu kepastian. Memasuki bulan puasa, tinggal di dalam tenda dianggap sudah tidak layak lagi, terutama untuk anak-anak dan lansia.

“Daripada terus-terusan tinggal di tenda, warga memilih buat sendiri Huntara. Kami manfaatkan apa yang ada, mulai dari kayu sisa banjir hingga seng-seng yang sudah terbelah untuk atap. Kami butuh tempat tinggal yang lebih layak sebelum puasa tiba,” ujar Mujahidin, Minggu (22/2/2026).

Menagih Janji Pemerintah

Pembangunan Huntara secara mandiri ini menjadi simbol kritik terhadap lambatnya respons birokrasi dalam menangani infrastruktur dasar pascabencana. Warga berharap, meskipun mereka telah berupaya membangun secara swadaya, pemerintah tetap segera turun tangan memberikan bantuan permanen.

Apalagi, dengan 32 rumah yang hilang total diterjang arus, kebutuhan akan relokasi atau hunian tetap (Huntap) menjadi agenda mendesak agar warga Desa Sijudo tidak terus terkatung-katung dalam ketidakpastian.

Bagikan
Sumber: RRI

Berita Terkini

Indeks