ACEH TIMUR – Menjelang bulan suci Ramadan, puluhan warga Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, terpaksa mengambil langkah mandiri. Tak ingin terus bergantung di tenda pengungsian yang serba terbatas, mereka mulai membangun Hunian Sementara (Huntara) menggunakan material sisa-sisa banjir bandang November 2025 lalu.
Langkah ini diambil warga sebagai bentuk protes sekaligus solusi nyata atas ketidakjelasan realisasi bantuan Huntara yang sebelumnya dijanjikan oleh pihak terkait.
Kondisi Terkini Penyintas Banjir Sijudo
Hampir tiga bulan pascabencana, mayoritas warga masih bertahan di bawah terpal pengungsian. Berikut adalah data kerugian dan progres pembangunan mandiri di lapangan:
| Indikator Dampak | Data Statistik |
|---|---|
| Total KK Terdampak | 46 Kepala Keluarga |
| Rumah Hilang/Hanyut | 32 Unit |
| Huntara Mandiri | Sedang dibangun oleh ± 20 KK |
| Material Utama | Kayu hanyut & seng bekas sisa banjir |
Bertahan di Tengah Keterbatasan Menjelang Ramadan
Kepala Dusun Ranto Panyang Rubek, Mujahidin, mengungkapkan bahwa warga sudah lelah menunggu kepastian. Memasuki bulan puasa, tinggal di dalam tenda dianggap sudah tidak layak lagi, terutama untuk anak-anak dan lansia.
“Daripada terus-terusan tinggal di tenda, warga memilih buat sendiri Huntara. Kami manfaatkan apa yang ada, mulai dari kayu sisa banjir hingga seng-seng yang sudah terbelah untuk atap. Kami butuh tempat tinggal yang lebih layak sebelum puasa tiba,” ujar Mujahidin, Minggu (22/2/2026).
Menagih Janji Pemerintah
Pembangunan Huntara secara mandiri ini menjadi simbol kritik terhadap lambatnya respons birokrasi dalam menangani infrastruktur dasar pascabencana. Warga berharap, meskipun mereka telah berupaya membangun secara swadaya, pemerintah tetap segera turun tangan memberikan bantuan permanen.
Apalagi, dengan 32 rumah yang hilang total diterjang arus, kebutuhan akan relokasi atau hunian tetap (Huntap) menjadi agenda mendesak agar warga Desa Sijudo tidak terus terkatung-katung dalam ketidakpastian.