BANDA ACEH — Pemerintah Aceh akan mengusulkan penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) bagi petani nilam ke Kementerian Perdagangan. Kebijakan ini dirancang untuk menstabilkan harga komoditas unggulan tersebut yang kerap dipermainkan spekulan, sekaligus membuka akses pembiayaan bagi petani.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi menegaskan bahwa SRG menjadi solusi utama atas persoalan yang dihadapi petani dan pelaku usaha nilam. “Solusinya untuk saat ini adalah penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk petani nilam, kemudian mengembangkan hilirisasi minyak nilam,” kata Mualem, Kamis (23/7/2026).
Paradoks di Balik Tingginya Permintaan Global
Rapat Koordinasi Hilirisasi Nilam yang digelar di Ruang Rapat Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Rabu (22/7/2026), mengungkap situasi paradoks. Di satu sisi, permintaan minyak nilam dunia mencapai 2.500 ton per tahun, sementara produksi global hanya sekitar 1.600 ton per tahun. Indonesia memasok 90 persen kebutuhan dunia, dan 30 persen di antaranya berasal dari Aceh.
Namun, petani nilam Aceh justru kesulitan. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh Teuku Robby Irza yang memimpin rapat menyebutkan sejumlah tantangan di sektor hulu: fluktuasi harga, ketidakpastian pasar, keterbatasan akses pembiayaan, hingga belum adanya standar operasional budidaya yang seragam.
Empat Syarat Tembus Pasar Global
Untuk memenuhi kebutuhan pasar global, Robby menegaskan industri nilam Aceh wajib memenuhi empat syarat utama: jaminan mutu, jaminan kontinuitas pasokan, praktik perdagangan yang adil, dan sistem ketertelusuran digital. “Sudah jelas untuk memenuhi syarat tersebut maka Aceh membutuhkan industri refinery,” ujarnya.
Saat ini perkembangan industri nilam Aceh masih berada pada tahap awal hilir, yakni perencanaan pembangunan pabrik penyulingan (refinery). Robby menambahkan bahwa industri refinery dan sertifikasi produk melalui SRG menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Minyak nilam Aceh dikenal memiliki kualitas unggul dengan kandungan Patchouli Alcohol (PA) tinggi, sehingga menjadi standar pencampur (blending agent) bagi minyak nilam dari berbagai negara dan sangat diminati industri parfum, kosmetik, farmasi, serta aromaterapi dunia.
Sinergi Lintas Sektor dan Pembinaan Petani
Rapat koordinasi yang dihadiri Kepala Disperindag Aceh Teuku Adi Darma, Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh Zaini, perwakilan Bank Aceh, dan PT Razma Agro Jayana itu menghasilkan sejumlah rekomendasi. Selain SRG, pemerintah akan melaksanakan pembinaan petani nilam secara terpadu dan mendorong pembentukan asosiasi atau komunitas Nilam Aceh.
Pemerintah Aceh juga akan memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan masyarakat guna membangun ekosistem industri nilam yang modern dan berorientasi ekspor. “Memberikan nilai tambah yang lebih besar, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat peran Aceh sebagai salah satu pusat produksi minyak nilam berkualitas terbaik di dunia,” pungkas Robby.