Pencarian

SPS Revival di Banda Aceh Usung Tema Meutaloe: Ruang Kreatif Lintas Disiplin yang Merawat Perjumpaan Manusia

Jumat, 31 Juli 2026 • 10:53:01 WIB
SPS Revival di Banda Aceh Usung Tema Meutaloe: Ruang Kreatif Lintas Disiplin yang Merawat Perjumpaan Manusia
Pengunjung menyaksikan perpaduan musik rapa'i dan beatbox dalam gelaran SPS Revival bertema Meutaloe di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu (tanggal).

BANDA ACEH — Arena Skate Lamprit pada Sabtu sore menjadi titik temu yang tidak pernah bisa diprediksi. Seseorang yang datang membawa alat musik bisa pulang dengan lagu yang berbeda dari yang ia bayangkan. Pengunjung yang berniat menonton sering kali justru terseret dalam percakapan panjang, dan mereka yang datang sendirian kerap membawa pulang rencana kolaborasi yang sebelumnya tak terpikirkan.

Semangat itulah yang coba dihidupkan kembali oleh SPS Revival melalui tema "Meutaloe: Menautkan Karya, Menjalin Manusia". Dalam bahasa Aceh, meutaloe bermakna saling menaut atau saling menghubungkan. Bagi para pegiatnya, kata itu bukan sekadar tema mingguan, melainkan cara pandang terhadap kebudayaan itu sendiri—setiap karya lahir dari perjumpaan, dan setiap perjumpaan membangun kepercayaan untuk berkarya bersama.

Bukan Sekadar Panggung Pertunjukan

SPS Revival sejak awal menolak dikategorikan sebagai panggung pertunjukan biasa. Panggung hanyalah alasan awal untuk berkumpul. Yang ingin dirawat adalah ruang di belakangnya: tempat orang saling mengenal, saling mendengar, lalu menemukan kemungkinan bekerja sama tanpa harus menunggu undangan atau proyek berikutnya.

Perbincangan di antara para peserta bahkan sudah berlangsung sebelum acara dimulai. Ada yang mengusulkan rapa'i dimainkan dengan pendekatan baru, ada pula yang menawarkan gurindam Melayu untuk dipertemukan dengan musisi muda. Rap Aceh, beatbox, monolog, puisi, musik akustik, hingga komunitas skate duduk dalam percakapan yang sama, tanpa ada upaya menyeragamkan.

Rapa'i Bertemu Beatbox, Penyair Berbagi Ruang dengan Rapper

Sabtu nanti, pengunjung akan mendengar kisah tentang rapa'i dari seorang utoh muda asal Aceh Utara. Di ruang yang sama, komunitas Beatbox Aceh dijadwalkan melanjutkan eksplorasi mereka. Musisi independen, penyair, pegiat monolog, pelaku ekonomi kreatif, hingga para penikmat seni dipertemukan tanpa sekat.

Pemandangan seperti itu memang sengaja dipelihara. Seorang pemain rapa'i dapat duduk berdampingan dengan beatboxer, penyair berbagi ruang dengan rapper, dan seorang skater mungkin menjadi orang pertama yang mengapresiasi sebuah monolog. Pertemuan lintas disiplin ini tumbuh dari keyakinan bahwa kebudayaan tidak berkembang karena semua orang menjadi sama, melainkan karena setiap orang bersedia saling mendengar.

Tradisi, menurut SPS Revival, tidak kehilangan martabat ketika bertemu bentuk-bentuk baru. Sebaliknya, tradisi justru memperoleh kesempatan memperluas gema kehidupannya.

Benih Kolaborasi yang Tumbuh di Luar Jadwal Acara

Dalam beberapa pekan terakhir, SPS Revival mulai memperlihatkan hasilnya. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal mulai kembali datang setiap Sabtu. Percakapan berlanjut di luar jadwal acara, dan gagasan-gagasan kecil berubah menjadi rencana bersama.

Hubungan semacam inilah yang kerap luput dari dokumentasi, tetapi justru menjadi fondasi bagi lahirnya ekosistem kreatif yang sehat. Keberhasilan sebuah ruang kreatif, menurut mereka, tidak berhenti pada ramainya penonton atau panjangnya daftar penampil. Yang jauh lebih penting adalah apakah sesudah acara selesai masih ada alasan bagi orang untuk kembali bertemu, melanjutkan percakapan, dan menciptakan sesuatu yang baru.

Ruang Terbuka yang Bisa Dimiliki Siapa Saja

Perhatian publik yang mulai mengarah kepada SPS Revival belakangan ini diakui menjadi penyemangat. Namun perhatian itu bukan tujuan akhir. Yang ingin dijaga adalah agar ruang ini tetap terbuka, setara, dan dapat dimiliki siapa saja.

Tidak ada panggung yang lebih tinggi daripada yang lain di SPS Revival. Tidak ada bunyi yang lebih penting daripada bunyi yang lain. Setiap orang datang bukan hanya untuk menunjukkan apa yang dimiliki, tetapi juga untuk menemukan apa yang belum pernah ditemuinya.

Melalui tema "Meutaloe: Menautkan Karya, Menjalin Manusia," SPS Revival mengundang siapa pun untuk hadir. Membawa karya akan menjadi kegembiraan, membawa alat musik akan memperkaya suasana, dan datang dengan rasa ingin tahu pun sudah lebih dari cukup. Sebab setiap perjumpaan selalu menyimpan kemungkinan yang tidak dapat direncanakan sebelumnya.

Mungkin tidak semua orang akan tampil di atas panggung pada Sabtu nanti. Namun setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertunjukan: ruang yang membuat orang ingin kembali, bukan karena acaranya semata, melainkan karena manusia-manusia yang ditemuinya di sana.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sagoetv.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks