BANDA ACEH — Rangkaian zikir dan doa menyambut Hari Damai Aceh 2026 akan berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Jumat malam, 14 Agustus 2026. Pemerintah Aceh melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA) menyiapkan acara ini sebagai ruang spiritual bagi masyarakat untuk merefleksikan sekaligus merawat perdamaian yang telah berjalan sejak 2005.
Abu Paya Pasi Isi Tausiah, Zikir Dipimpin Tgk Jamaluddin Radyid
Kepala UPTD Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Aprilizar, SE, MM, melaporkan rangkaian kegiatan dimulai pukul 19.45 WIB, setelah Salat Isya berjamaah. Abu Paya Pasi akan menyampaikan tausiah terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan Zikir Hari Damai Aceh 2026 yang dipimpin Tgk. Jamaluddin Radyid bersama tim dari Kabupaten Aceh Utara.
"Insyaallah Abu Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh akan langsung menyampaikan tausiah. Kegiatan ini terbuka untuk umum, sehingga kami mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dan bersama-sama mengikuti rangkaian zikir dan doa," ujar Aprilizar.
Jamaah Diminta Jaga Ketertiban Selama Acara Berlangsung
Dengan perkiraan hadirnya jamaah dari berbagai kalangan, pengelola masjid mengimbau para pengunjung untuk tertib selama mengikuti acara. Kepala Humas Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Dr. H. Said Mulyadi, M.Si., meminta masyarakat memanfaatkan ruang yang telah disediakan panitia.
"Mari kita bersama-sama menyemarakkan kegiatan ini dengan tetap menjaga ketertiban. Kami mengimbau masyarakat mengikuti aturan dan ruang-ruang yang telah disediakan, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan khidmat dan nyaman," katanya.
Lebih dari Sekadar Seremonial, Penguat Rasa Syukur atas Perdamaian
Malam zikir dan doa ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Kegiatan tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk mengenang dan mensyukuri perdamaian Aceh, sekaligus meneguhkan komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga Aceh tetap damai, aman, dan bermartabat.
Hari Damai Aceh sendiri diperingati setiap 15 Agustus, merujuk pada penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki pada 2005. Peringatan ini menjadi simbol berakhirnya konflik berkepanjangan dan dimulainya era baru pembangunan di Serambi Mekkah.