TAKENGON — Naufal Khalis Munthe, siswa SMA Negeri 8 Takengon, dan Lintang Heriska dari SMA Negeri 1 Takengon resmi menyandang gelar Raja dan Ratu Baca Aceh Tengah tahun 2026. Penobatan keduanya merupakan hasil dari seleksi ketat yang diselenggarakan oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah setempat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-81. Pemilihan ini tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari upaya mencetak agen perubahan yang aktif menggerakkan budaya literasi di Kabupaten Aceh Tengah.
Tanggung Jawab Duta Baca untuk Generasi Muda
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Aceh Tengah, Zulfan Diara, menegaskan bahwa gelar yang disandang Naufal dan Lintang bukanlah sekadar atribut. Keduanya memiliki tanggung jawab nyata untuk menjalankan peran sebagai duta baca di tengah masyarakat.
“Bagi duta baca yang terpilih, buktikan bahwa kalian mampu mengajak remaja-remaja lainnya untuk senantiasa mencintai buku sebagai jendela dunia,” ujar Zulfan dalam sambutannya di Takengon, Rabu (12/8/2026).
AI Bukan Hambatan, Justru Penguat Budaya Baca
Zulfan mengakui tantangan budaya membaca semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun, kemajuan teknologi tersebut dinilai tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan buku.
Ia justru mendorong para pelajar untuk memanfaatkan AI sebagai teknologi pendukung guna memperkuat budaya belajar dan membaca. Menurutnya, AI bisa menjadi katalisator yang mempermudah akses informasi, tetapi buku tetap menjadi sumber ilmu fundamental.
“Perkembangan teknologi AI bukan menjadi kelemahan bagi kita. Mestinya perkembangan teknologi AI menjadi penguat dan tantangan bagi duta baca untuk selalu eksis mencari ilmu melalui buku-buku yang ada di perpustakaan maupun di tempat lainnya,” katanya.
Harapan untuk Raja dan Ratu Baca Terpilih
Melalui amanah barunya, Naufal dan Lintang diharapkan mampu menjadi teladan dan penggerak di lingkungan sekolah serta komunitasnya masing-masing. Program kerja yang mereka bawa nantinya akan menentukan seberapa jauh pengaruh positif yang bisa disebarkan kepada pelajar lain di Aceh Tengah.
Zulfan berharap keberadaan Raja dan Ratu Baca ini tidak berhenti pada seremoni pemilihan, tetapi melahirkan generasi muda yang literat dan kritis. Ia juga mengingatkan bahwa peran mereka akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola program literasi berbasis anak muda.
Dengan semangat HUT RI ke-81, penobatan ini menjadi momentum pengingat bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kebiasaan membaca. Dinas terkait akan terus memantau kinerja kedua duta baca tersebut selama masa kepengurusan berlangsung.