PIDIE JAYA — Angka penderita diabetes di Kabupaten Pidie Jaya tercatat cukup tinggi, dengan rincian 1.852 kasus pada laki-laki dan 1.542 kasus pada perempuan. Data ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Pidie Jaya, Eddy Azwar, saat membuka kegiatan edukasi yang digagas tim Dia-Bencana (Diabetes Bencana) USK.
Eddy Azwar mengapresiasi inisiatif tersebut dan menyebut diabetes merupakan salah satu dari tiga penyakit tidak menular yang paling serius di wilayahnya, bersama hipertensi dan jantung. "Tim ini insyaallah akan membantu kami menangani penyakit tidak menular. Mari kita ikuti kegiatan ini dengan serius, dan kami yakin akan ada jalan keluar serta solusi yang baik," ujarnya dalam sambutan.
Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari penelitian berjudul "Dia-Bencana: Komunikasi Kesehatan dan Perilaku Pencarian Informasi Terapi, dan Akses Obat pada Pasien Diabetes Pascabencana di Aceh". Riset tersebut didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK tahun 2026.
Tim peneliti terdiri dari lima dosen lintas program studi. Rizanna Rosemary, Alfi Rahman, dan Uswatun Nisa dari Ilmu Komunikasi, Sarah Firdausa dari Ilmu Penyakit Dalam, serta Nurul Kamaly dari Ilmu Pemerintahan. Rizanna selaku ketua tim menjelaskan, tujuan utama riset ini adalah melihat perbedaan pola akses terapi dan obat-obatan pada pasien diabetes sebelum dan sesudah bencana terjadi.
"Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi sistem komunikasi kesehatan dan proses pencarian informasi pasien diabetes terkait terapi dan akses obat, mengukur tingkat kepatuhan terapi beserta alasannya, serta mengkaji hambatan dan peluang komunikasi kesehatan diabetes pascabencana," jelas Rizanna.
Selain sosialisasi kepatuhan terapi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan dan cek gula darah gratis. Peserta yang hadir merupakan penderita diabetes beserta pendampingnya dari wilayah Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meuredu.
Sarah Firdausa, dokter spesialis penyakit dalam yang tergabung dalam tim, mengungkapkan bahwa diabetes merupakan penyakit nomor satu terbanyak di Indonesia. Menurutnya, peran pendamping penderita sangat besar dalam penanganan diabetes. "Perilaku kita sering kali memicu diabetes," katanya.
Rizanna menambahkan, komunikasi kesehatan masih jarang digalakkan padahal sangat penting. Ia menekankan bahwa informasi kesehatan tidak selalu datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari secara aktif oleh pasien dan keluarganya.
Setelah sesi edukasi, tim Dia-Bencana akan melanjutkan kegiatan dengan diskusi kelompok terfokus (FGD). Diskusi akan melibatkan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Pidie Jaya, BPJS Pidie Jaya, sejumlah tenaga kesehatan, dan para keuchik gampong di wilayah tersebut. FGD bertujuan memperdalam temuan penelitian terkait hambatan dan peluang komunikasi kesehatan diabetes pascabencana.