BANDA ACEH — Di tengah gempuran gawai dan gim daring, seorang siswa sekolah dasar di ibu kota Provinsi Aceh ini justru menghabiskan momen istimewanya di toko buku. Muhammad Alfatih, siswa SDN 54 Banda Aceh, terlihat antusias memilih buku di sebuah toko buku di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, pada 8 Agustus 2026.
Kedatangannya kali ini bukan tanpa sebab. Sang ayah telah berjanji untuk membelikan Alfatih buku setiap tanggal 8, sebagai hadiah sekaligus pengingat hari kelahirannya.
"Saya lahir tanggal 8. Jadi setiap tanggal 8 pada setiap bulan, saya dibeli buku. Ayah sudah janji beli buku setiap tanggal 8," ucap Muhammad Alfatih.
Yang menarik, tradisi ini tidak berhenti pada sekadar membeli. Setiap kunjungan ke toko buku, Alfatih dan orang tuanya selektif memilih bahan bacaan. Kali ini, yang masuk keranjang adalah buku bernuansa islami yang dinilai cocok untuk pembentukan karakter anak.
Pilihan tersebut menunjukkan arah pendidikan yang ingin dibangun keluarga, di mana literasi tidak hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga pembentukan nilai dan kepribadian.
Di balik kebiasaan sederhana ini, ada komitmen besar dari orang tua Alfatih. Mereka secara sadar menjadikan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari tumbuh kembang anak. Membiasakan buah hati bersentuhan dengan buku sejak dini dianggap sebagai investasi jangka panjang yang lebih berharga daripada sekadar materi.
Jika sedang tidak sempat berkunjung ke toko buku secara langsung, orang tua Alfatih sesekali memesan buku secara daring. Artinya, komitmen ini tetap berjalan apa pun kondisinya.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil ini diharapkan mampu menjadikan Alfatih pribadi yang gemar membaca dan haus akan ilmu. Di tengah minimnya minat baca di kalangan pelajar, tradisi keluarga ini menjadi contoh nyata bahwa kecintaan pada buku bisa dimulai dari rumah.