ACEH — Kepastian tiket ke Amerika Utara diraih dengan dramatis. Sebuah kesalahan administratif nyaris menghancurkan mimpi Afrika Selatan ketika mereka kehilangan tiga poin karena memainkan Teboho Mokoena yang sedang menjalani skorsing saat melawan Lesotho — padahal laga itu dimenangi 2-0. Akibatnya, mereka harus menunggu hingga akhir babak grup untuk memastikan posisi puncak, unggul satu angka atas Nigeria.
“Perjalanan ini luar biasa, penuh momen baik dan buruk yang memaksa kami saling menguatkan,” ucap kapten dan kiper Ronwen Williams kepada SABC Sport usai kelolosan dipastikan.
Dari Stadion Sepi ke Tiket Habis
Broos mengambil alih tim pada 2021 saat Bafana Bafana belum pernah mentas di Piala Dunia sejak 2002 — meski menjadi tuan rumah pada edisi 2010. Sebelumnya, reputasi Afrika Selatan sebagai tim inferior yang nyaris tak lolos ke turnamen besar.
Kini, kebangkitan mereka berbanding terbalik. “Masyarakat kembali mencintai Bafana Bafana. Mereka datang ke stadion untuk mendukung kami,” kata Broos. Stadion yang dulu sunyi kini penuh sesak.
Bukan Satu Bintang, Tapi Tim yang Solid
Berbeda dengan era sebelumnya yang bergantung pada satu nama besar, Broos membangun skuad tanpa superstar individual. Tulang punggung tim terdiri dari Williams di bawah mistar, bek Khuliso Mudau, dan “lem perekat” di lini tengah: Teboho Mokoena. Gelandang 29 tahun itu menjadi jembatan antara pertahanan dan serangan, plus ancaman dari bola mati.
Di lini depan, Lyle Foster dari Burnley menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ia jarang tampil flamboyan, tetapi keunggulan duel udara dan kemampuannya menahan bola jadi kunci serangan balik yang diandalkan Broos.
Mofokeng, Talenta Muda yang Dinanti
Relebohile Mofokeng, pemain sayap Orlando Pirates berusia 21 tahun, menjadi sorotan. Ia adalah salah satu pemain paling populer di Afrika Selatan berkat gocekannya di level klub, namun belum mampu menunjukkan performa terbaik bersama timnas. Broos mengindikasikan bahwa Piala Dunia akan menjadi panggung bagi Mofokeng untuk memikul tanggung jawab lebih besar.
Grup Neraka dan Hubungan Diplomatik yang Dingin
Afrika Selatan tergabung di Grup F bersama tuan rumah Meksiko, Korea Selatan, dan Republik Ceko. Peluang lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah terbilang tipis. “Ini pengalaman berharga. Kami akan melawan seperti yang kami lakukan selama ini,” tegas Broos.
Di luar lapangan, hubungan antara AS dan Afrika Selatan membeku di bawah pemerintahan Donald Trump. Tuduhan genosida terhadap warga kulit putih di Afrika Selatan membuat Washington membuka program pengungsi bagi warga Afrikaner — meski hanya segelintir yang mendaftar. Kunjungan Presiden Cyril Ramaphosa ke Gedung Putih pada 2025 untuk meluruskan hoaks itu belum meredakan ketegangan.
Karena biaya perjalanan ke Amerika Utara yang mahal, dukungan langsung di stadion diprediksi minim. Kementerian Olahraga setempat menggalang dana swasta untuk mengirim 20 penggemar beruntung ke laga pembuka melawan Meksiko.