ACEH — inDrive lahir bukan dari ruang rapat perusahaan teknologi, melainkan dari kepanikan warga Yakutsk, Rusia, pada 2012. Saat suhu udara menyentuh minus 40 derajat Celcius, perusahaan taksi lokal menaikkan tarif dua kali lipat secara sepihak. Sekelompok mahasiswa kemudian membuat grup media sosial bernama "Independent Drivers" untuk mempertemukan penumpang dan sopir yang bisa bernegosiasi harga.
Filosofi inilah yang dibawa ke Indonesia. Di tengah keluhan pengguna soal tarif yang melonjak saat hujan atau jam sibuk, inDrive menawarkan sistem "Real-Time Deals" — penumpang menentukan harga yang mereka anggap wajar, sopir punya hak untuk menerima, menolak, atau menawar balik.
Komisi Hanya 10-15 Persen, Sopir Bisa Pilih Orderan
Bagi mitra pengemudi, inDrive menawarkan insentif finansial yang lebih menarik. Jika Gojek dan Grab memotong 20-25 persen dari tarif perjalanan, inDrive hanya mengambil komisi 10-15 persen. Artinya, pendapatan bersih yang dibawa pulang sopir lebih besar meski tarif yang disepakati lebih rendah dari harga pasar.
Selain itu, sopir memiliki otonomi penuh untuk menolak orderan yang dianggap terlalu jauh atau tidak menguntungkan. Tidak ada sistem algoritma yang memaksa mereka menerima perjalanan dengan imbalan yang tidak sepadan.
Penumpang Bisa Pilih Sopir Berdasarkan Rating dan Harga
Dari sisi penumpang, inDrive memberikan transparansi total. Setelah menawarkan harga, pengguna bisa melihat daftar sopir yang merespons beserta rating, jenis kendaraan, dan estimasi waktu kedatangan. Penumpang bebas memilih sopir dengan penawaran termurah atau reputasi terbaik.
Tidak ada biaya tersembunyi atau kenaikan harga mendadak karena cuaca buruk. Harga yang disepakati di awal adalah harga final yang dibayar. Fitur keamanan seperti berbagi lokasi secara real-time ke keluarga atau teman juga tersedia.
Sejak meluncur secara resmi, inDrive telah berekspansi ke lebih dari 45 negara dan 700 kota. Di Indonesia, pertumbuhan penggunanya masif, membuktikan bahwa model negosiasi langsung sangat cocok dengan karakteristik konsumen lokal yang gemar tawar-menawar.