Pencarian

Tanah Amblas di Aceh Tengah Putuskan Jalan 175 Meter, Warga Pondok Balik Bertahan di Bibir Sinkhole

Jumat, 30 Oktober 2026 • 09:01:02 WIB
Tanah Amblas di Aceh Tengah Putuskan Jalan 175 Meter, Warga Pondok Balik Bertahan di Bibir Sinkhole
Warga melintasi jalur alternatif di tepi sungai setelah badan jalan sepanjang 175 meter di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, terputus akibat tanah amblas.

ACEH TENGAH — Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh mencatat longsoran di Kecamatan Ketol memutus badan jalan sepanjang 175 meter. Dua kampung paling terdampak adalah Pondok Balik dan Kampung Bah, yang kini menghadapi ancaman pergerakan tanah yang terus meluas mengikuti aliran parit.

Bagi Masri Kamila (34), hujan bukan lagi sekadar cuaca. Setiap langit menghitam, kecemasan datang karena rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir sinkhole. Malam hari jadi waktu paling melelahkan ketika bongkahan tanah besar runtuh dan suaranya memecah sunyi.

"Getarannya terasa sampai ke rumah," ungkap Masri, dikutip dari laporan Media Online Aceh.

Rumah di Bibir Lubang, Kebun di Ambang Kehilangan

Marliah (56) menanggung beban berlapis. Sejak suaminya tak lagi mampu bekerja akibat kecelakaan, ia menjadi tulang punggung keluarga. Hampir satu hektar kebunnya luruh ditelan sinkhole, menyisakan lahan tak sampai satu rantai yang masih ia tanami cabai.

Di lahan tipis itu, Marliah berharap masih ada hasil yang bisa dipanen. Sementara cicilan sepeda motor dan biaya sekolah anak terus menagih kepastian.

Cerita getir serupa datang dari Jamaliah yang mengandalkan warung kecil. Sejak jalan utama penghubung desa terputus, pembeli semakin sepi. "Mendapatkan Rp50 ribu sehari pun kini terasa sulit," ujarnya.

Jalan Terputus, Anak Tak Bisa Sekolah Saat Hujan Lebat

Terputusnya jalan mengubah perhitungan harian warga. Perjalanan ke sekolah atau mengangkut hasil panen harus melewati jalur berlubang dan licin. Dalam kondisi darurat, membawa orang sakit ke rumah sakit pun menjadi tantangan tersendiri.

"Di kondisi tertentu (hujan lebat, sungai meluap) anak-anak bahkan tidak bisa pergi ke sekolah," kata Kepala Dusun Pondok Balik, Siswa Adi Syahputra.

Pemerintah desa mengaku belum menerima penjelasan pasti soal rencana pembangunan jalan. "Kami dari pemerintahan desa paling bisa menenangkan masyarakat, tapi kami juga tidak berhenti meminta kepastian (ke pemerintah)," tutur Sekretaris Desa Pondok Balik, Mohammad Lucky.

Plt. Sekretaris Daerah Aceh Tengah Alam Syuhada menyatakan jalan sementara telah dialihkan ke jalur lain di tepi sungai agar warga tetap bisa melintas, meski harus menempuh jarak lebih jauh.

"Sementara sudah bisa akses dulu, dan secara bertahap saya yakin ini akan ada penanganan dari pemerintah," kata Alam Syuhada.

Lumbung Cabai Ketol Terancam dari Dua Sisi

Ketol adalah barisan terdepan lumbung hortikultura Aceh Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Tengah mencatat luas panen cabai di kecamatan ini mencapai 3.886 hektar sepanjang 2024, dengan akumulasi cabai keriting, rawit, dan cabai besar lebih dari 85 ribu ton.

Cabai Merah Keriting dan Cabai Rawit dari Ketol dikirim ke berbagai daerah, termasuk Jawa dan Bali. Di sepanjang jalur itu bergantung banyak pihak: petani, buruh tani, pengangkut, sampai pedagang.

Siti (34) merasakan ancaman dari dua sisi sekaligus. Kebun cabainya hanya berjarak sekitar 25 meter dari bibir longsoran dan terancam luruh sewaktu-waktu, sementara jalan rusak menyulitkan hasil panen keluar.

"Takut, karena kan kami nanam di situ, sedangkan kebun itu tuh kebun yang ada hasil satu-satunya," kata Siti.

Warga Pondok Balik belum melihat tanda-tanda pemulihan menyeluruh. Mereka menunggu tindakan nyata, bukan sekadar kunjungan peninjauan. "Kami ingin mereka (Pemerintah) merasakan sendiri bagaimana sulitnya perjalanan di sini," tambah Siswa.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: anterokini.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks