REDELONG — Pemulihan akses Wih Delung Semayun dikerjakan CV Cipta Indah dengan nilai kontrak Rp4.840.995.000. Aliran sungai dan jembatan di kawasan itu terputus akibat banjir dan tanah longsor pada akhir 2025.
Pembangunan tidak hanya mengembalikan akses warga yang terdampak bencana. Infrastruktur baru dirancang agar lebih aman menghadapi risiko serupa di masa mendatang.
Box Culvert Beton Pengganti Gorong-gorong Lama
Pekerjaan mencakup pembangunan box culvert dan retaining wall. Box culvert adalah struktur beton berbentuk kotak yang berfungsi sebagai saluran air sekaligus lintasan pendek yang mampu menopang beban kendaraan di atasnya.
Retaining wall atau dinding penahan tanah menahan tekanan lateral tanah pada area dengan perbedaan elevasi. Struktur ini mengurangi risiko longsor, erosi, dan pergeseran tanah di kawasan lereng maupun tepi jalan.
Dari tujuh segmen dinding penahan tanah yang menjadi bagian pekerjaan, empat segmen telah selesai. Tiga segmen lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Jalan dan Jembatan Sumatra Mulai Fungsional Kembali
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra (Kasatgas PRR) sekaligus Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyatakan sebagian besar jalan dan jembatan terdampak bencana di Sumatera telah kembali berfungsi. Penanganan dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, TNI, Polri, dan pihak terkait.
"Jembatan, jalan, rata-rata semuanya sudah fungsional, kecuali beberapa jembatan daerah dan ini dikeroyok semua, baik oleh PU, TNI, Polri semua bergerak," kata Tito saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatra di Ruang Rapat Posko Nasional Satgas PRR, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable
Arah rehabilitasi dan rekonstruksi mengacu pada Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028. Ketua Pengarah Satgasnas PRR sekaligus Menko PMK Sugiono menegaskan pembangunan kembali harus memperhatikan aspek keamanan, keberlanjutan, dan potensi risiko bencana di masa depan.
"Saya juga perlu menegaskan bahwa arah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana harus jelas. Kita harus membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan. Prinsip inilah yang harus menjadi pegangan kita dalam melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Sugiono, Senin (26/10/2026).
Proses pemulihan juga mempertimbangkan perubahan iklim dan kemungkinan bencana serupa. "Pemulihan ini juga harus berorientasi jangka panjang dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana serupa," ujarnya.
Prinsip itu dikenal sebagai Build Back Better, Safer and Sustainable, yakni membangun kembali dengan memperkuat ketahanan infrastruktur, mengurangi risiko bencana, serta memastikan pembangunan berkelanjutan.
Kerusakan Bener Meriah Capai Rp4,54 Triliun
Berdasarkan data Renduk PRRP Sumatra 2026-2028, nilai kerusakan akibat bencana di Bener Meriah mencapai sekitar Rp4,54 triliun. Kerugian diperkirakan Rp1,19 triliun, sehingga total kerusakan dan kerugian sekitar Rp5,73 triliun.
Kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah itu diperkirakan mencapai Rp5,93 triliun. Angka tersebut menunjukkan pemulihan infrastruktur konektivitas menjadi bagian penting dari proses pemulihan menyeluruh.
Jalan dan jembatan diperlukan untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, serta mobilitas masyarakat. Dengan progres empat dari tujuh segmen, pemulihan Wih Delung Semayun terus berjalan menuju infrastruktur yang lebih kuat dan siap menghadapi risiko bencana berikutnya.