BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit untuk pekebun mitra periode awal Juni 2026. Keputusan ini tertuang dalam berita acara yang diteken oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, bersama Ketua Tim Penetapan dan Pemantauan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit, Habiburrahman, di Banda Aceh pada Kamis (4/6/2026).
Perbedaan harga jual dipengaruhi oleh nilai Indeks K yang ditetapkan berbeda untuk dua wilayah. Untuk wilayah timur Aceh, Indeks K ditetapkan sebesar 89,38 persen, sedangkan wilayah barat lebih rendah di angka 87,84 persen. Indeks K merupakan faktor yang menentukan bagian harga yang diterima pekebun dari harga jual Crude Palm Oil (CPO) dan kernel.
Tim penetapan harga mencatat rata-rata harga CPO di tingkat pabrik sebesar Rp 13.966,50 per kilogram. Sementara itu, rata-rata harga kernel mencapai Rp 14.208,68 per kilogram. Kedua komoditas ini menjadi acuan utama dalam perhitungan harga TBS yang layak diterima pekebun.
Harga yang diterima pekebun mitra swadaya tidak seragam. Besarannya ditentukan oleh komposisi persentase kandungan varietas Tenera dan Dura dalam TBS yang dijual. Varietas Tenera dikenal memiliki rendemen minyak lebih tinggi dibandingkan Dura.
Berikut rincian harga TBS per kilogram untuk setiap komposisi varietas di kedua wilayah:
Semakin tinggi persentase varietas Tenera, semakin besar harga yang diterima pekebun. Selisih harga antara komposisi tertinggi dan terendah mencapai Rp 108 per kilogram di wilayah timur dan Rp 107 per kilogram di wilayah barat.
Penetapan harga TBS ini merupakan mekanisme rutin yang dilakukan pemerintah daerah setiap periode tertentu. Tujuannya untuk memberikan kepastian harga bagi pekebun mitra yang menggantungkan hidupnya pada komoditas sawit. Keputusan ini juga menjadi acuan bagi pabrik kelapa sawit dalam melakukan pembelian dari pekebun binaan.
Kebijakan harga ini diharapkan dapat menjaga stabilitas usaha perkebunan sawit rakyat di Aceh, yang merupakan salah satu sektor ekonomi utama di provinsi ujung barat Indonesia tersebut. Pekebun diimbau untuk memahami komposisi varietas kebun mereka agar dapat memperkirakan pendapatan yang akan diterima.